Rabu, 07 Maret 2012
Supervisi Pendidikan
"/tmp/upload/97d643081a06ad51063227624c0e817f106e8f94568ef40b3d63abb266aeef631/Copy of IMG_0275.jpg"
BAB I
PENDAHULUAN
Bismillahirrahmanirrahim, puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT. dan Shalawat serta Salam tetap tercurahkan atas Rasulillah SAW. Untuk mencapai suatu tujuan yang besar, maka membutuhkan misi, tenaga dan juga keterampilan yang luas. Dalam pendidikan, salah satu usaha untuk mencapai tujuan adalah dengan mendayagunakan supervisor dalam misi supervisinya, namun hanya mengandalkan tanaga supervisor tidaklah cukup untuk tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan evisien, melainkan seorang supervisor harus memiliki keterampilan-keterampilan dalam mensupervisi. Sebab supervisi merupakan sebuah amanah atau pekerjaan yang secara undang-undang telah ditetapkan. Sebagaimana dikatakan dalam bab 1 Pasal 6 telah bahwa supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang esensial, yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Keterampilan yang dimaksud dalam suatu supervise merupakan sebuah kecakapan ilmu yang dapat memberikan stimulus untuk tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan diharapkan keterampilan tersebut dapat menjadikan perkembangan supervise kea rah yang lebih baik. Maka dari itu secara lebih rinci, keterampilan-keterampilan tersebut akan kami bahas dalam makalah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan siapa-pun yang membaca makalah ini dan tentunya menjadikan ilmu kita lebih kaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Supervisi
Dalam Bab 1 Pasal 6 telah dikatakan bahwa supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat yang esensial, yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Jadi supervisi mempunyai pengertian yang luas, supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah. Ia berupa dorongan, bimbingan, kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase proses pengajaran, dan sabagainya.
Secara luas Supervisi mempunyai pengertian yaitu segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah. Ia berupa dorongan, bimbingan, kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase proses pengajaran, dan sabagainya.
Sebelum lebih jauh membahas tentang keterampilan dalam sub supervise pendidikan, meneurut pemakalah, ada baiknya terlebih dahulu kita melihat supervise lintas zaman atau supervise beberapa abad sebelumnya.
Supervise pada masa awal yaitu diawali pada tahun 500 tahun sebelum masehi sampai abad ke-19 masehi.
Supervise ini dimulai pada zaman yunani kuno, pada masa itu belum ada sekolah, belum ada kelas-kelas dan belum ada yang mempunyai jadwal yang teratur. Pengajaran yang diberikan hanya terbatas pada kemampuan menulis dan membaca yang diberikan oleh seorang tutor dan bersifat individual. Pada masa ini pemahaman supervisor sudah muncul yang bertugas mengadakan control secara ketat dalam pendidikan, tetapi tidak disebut supervisor melainkan diberinama paidonomous.
Pada abad ke-18, supervise dilakukan oleh panitia kantor pendidikan atau panitia sekolah atau badan-badan pendidikan. Mereka diangkat sebagai supervisor karena dipandang pandai mengajar. Dengan demikian, yang menjadi perhatian mereka ketika melakukan tugas supervise adalah apakah guru sudah bisa mengajar dengan betul. Itu disebabkan kemungkinan karena pemahaman mereka tentang pendidikan yang merupakan sebuah pengajaran yaitu tentang apa dan bagaimana mengajarkan sesuatu.
Baru pada abad ke-19, supervisor secara resmi diakui sebagai profesi di sekolah sebab mereka ternyata sudah benar-benar ahli dalam metodelogi pengajaran. Profesionalitas mereka tampak pada upaya memperbaiki proses pembelajaran. Mereka melakukan demonstrasi untuk menunjukan atau memberi contoh kepada guru-guru tentang bagaimana belajar yang benar. Juga guru-guru diperbolehkan mengeluarkan pendapat untuk mencari kebenaran yang disepakati bersama. Jadi supervisor benar-benar memperhatikan para guru. Pada masa ini supervisor dipandang lebih utama dari pada kepala sekolah, hal itu karena supervisorlah yang banyak menangani guru-guru.
Supervise pada masa ini berakhir dengan supervise manusiawi dan dipandang sebagai fungsi demokrasi. Karena supervise manusiawi ini berperinsip “manusia itu baik”. Sebab itu diberlakukan baik, diberi kesempatan berpendapat, dihargai ide dan kreatifitasnya dan diperlakukan secara adil. Jadi sejalan dengan prinsip demokrasi.
B. Keterampilan Dalam Supervisi Pendidikan
Untuk melakukan supervisi efektif, terlebih dahulu seorang supervisor perlu mengetahui ciri-ciri dari supervisi yang efektif. Karena ciri-ciri inilah yang akan dijadikan panduan dalam mengembangkan keterampilan supervise pendidikan.
Menurut R. Keith Moblei dalam artikelnya “The keys to effective supervision”. Supervisi memiliki ciri-ciri yang dijadikan panduan dalam mengembangkan ketrampilan supervisi, dan dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan tugas-tugas supervisi seorang pemimpin. Ciri-ciri yang dimaksud adalah:
1. Delegasi
Seorang kepala sekolah atau supervisor, ia harus bisa membawa timnya ke target yang telah ditetapkan. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, akan lebih efektif jika kita mendelegasikan sebagian tugas-tugas, terutama yang bersifat teknis lapangan kepada geru-guru (staf). Jadi, tugas-tugas lapangan lainnya, perlu didelegasikan kepada anggota tim.
2. Keseimbangan
Seorang pimpinan diberikan otoritas untuk mengambil
keputusan dan memberikan tugas kepada orang-orang di bawah
tanggungjawabnya. Otoritas ini harus digunakan dengan tepat, artinya kepala sekolah atau supervisor harus menyeimbangkan penggunaan otoritas tersebut. Ia perlu tahu kapan harus menggunakan otoritas ini, dan kapan harus menahan diri dan membiarkan guru-guru (staf) bekerja dengan mengoptimalkan kreativitas mereka. Keseimbangan juga mengacu pada sikap yang diambil oleh seorang pemimpin, kapan harus bersikap tegas, dan kapan harus memberi kesempatan pada guru-guru (staf) untuk menyampaikan pendapat.
3. Jembatan
Seorang supervisor merupakan jembatan antara guru-guru (staf) yang mereka pimpin dengan manajemen puncak. Jadi ia harus bisa menyampaikan keinginan, usulan guru-guru (staf) pada pihak manajemen. Sebaliknya, ia pun harus bisa menyampaikan visi dan misi yang telah ditetapkan, serta keputusan-keputusan lain yang telah dibuat orang manajemen puncak untuk diketahui oleh para guru-guru (staf) yang menjadi anggota timnya. Kondisi seperti ini sering memojokkan sang supervisor, baik dari segi guru-guru (staf) maupun manajemen. Untuk itu, kepala sekolah atau supervisor harus bisa menerapkan prinsip keseimbangan dalam bersikap dan mengambil keputusan agar adil dan bisa "menemukan" kepentingan guru-guru (staf) dan juga pimpinan.
4. Komunikasi
Ciri sukses lain yang sangat penting dalam melakukan
supervisi efektif dalam pendidikan adalah kemampuan komunikasi. Komunikasi di sini bukanlah komunikasi satu arah (memberikan tugas-tugas saja), tetapi yang terlebih utama adalah komunikasi multiarah, yang juga mencakup kemampuan mendengarkan keluhan, masukan, dan pertanyaan dari guru-guru (staf). Dalam mengkomunikasikan tugas-tugas, supervisor perlu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang harus melaksanakan tugas tersebut, bahasa yang sejajar dengan kemampuan dan cara berpikir guru-guru (staf) yang bersangkutan.
Setelah mengenal ciri-ciri supervisi yang efektif, yang perlu Anda
ketahui juga adalah keterampilan yang diperlukan dalam melakukan
supervisi pendidikan yang efektif yaitu:
1. Keterampilan teknis
Dalam memberikan pengarah pada guru-guru (staf) untuk melakukan pekerjaan, seorang supervisor perlu memiliki keterampilan teknis yang cukup yang menyangkut teknis penyelesaian pekerjaan. Misalnya Supervisor di bidang Information technology (IT) perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan IT yang cukup untuk memberikan pengarahan. Supervisor di bidang pemasaran asuransi, perlu mengetahui benar produk-produk asuransi dan cara-cara praktis dan efektif untuk memasarkan produk-produk asuransi tersebut. Jika dirasa masih kurang, supervisor perlu meningkatkan diri sebelum membantu anak buah untuk meningkatkan diri mereka. Begitupula dengan kepala sekolah atau supervisor harus mempunyai teknik yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam sekolah tersebut.
2. Keterampilan Administratif
Keterampilan ini antara lain mencakup pengetahuan dan keterampilan membuat mematuhi prosedur operasional, peraturan atau pedoman perilaku yang berlaku, membuat laporan dinas, laporan bulanan, menyusun anggaran, membuat proposal, dan melakukan pekerjaan administratif lainnya yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditekuni. Keterampilan ini seringkali dilupakan oleh bagian sekolah ketika mempromosikan seseorang sebagai kepala sekolah atau supervisor. Umumnya para kepala sekolah atau supervisor baru hanya diberikan training untuk memantapkan keterampilan teknis dan meningkatkan keterampilan manajemen, tanpa memperhatikan keterampilan administratif.
3. Keterampilan Interpersonal
Keterampilan ini menuntut seorang supervisor untuk mengelola hubungan baik dengan berbagai pihak guru-guru, pegawai (staf), merid-murid dan yang terkait di dalamnya. Keterampilan ini juga mencakup kemampuan menangani konflik di tempat kerja, menangani guru-guru (staf) yang sulit diajak bekerja sama. Supervisor atau kepala sekolah yang memiliki keterampilan ini akan lebih mudah menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk mendukung keputusan yang dibuat dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, serta mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi.
4. Keterampilan Membuat Keputusan
Seorang kapala sekolah atau supervisor diberikan tanggung jawab untuk membuat berbagai keputusan di departemen atau divisi yang dipimpinnya: keputusan menunda sebuah pekerjaan, memulai sebuah pekerjaan, Semua keputusan ini akan mempengaruhi kelancaran jalannya kegiatan operasional dan berdampak pada tercapainya target yang telah ditetapkan.
Jadi seorang supervisor perlu membekali diri dengan keterampilan yang penting ini, misalnya mengembangkan keterampilan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada informasi yang berhasil dikumpulkan (information –based decision making), baik melalui data statistik ataupun hasil survei lainnya, metode keputusan yang didasarkan pada penyelesaian masalah (problem-based decision making), dan pengambilan keputusan yang didasarkan pada hasil (result-based decision making).
Disamping hal tersebut, supervisor juga memiliki peran sebagai peneliti, konsultan dan penasehat, fasilitator, motivator dan pelopor pembaharuan. Sebagai peneliti, supervisor dituntut untuk mengenal dan memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan pengajaran, oleh sebab itu, ia perlu mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dan mempelajari faktor-faktor atau penyebab ketidak berhasilan sebuah proses pengajaran.
Sebagai konsultan atau penasihat, supervisor hendaknya membantu guru untuk melakukan cara-cara yang lebih baik dalam mengelola proses pembelajaran, oleh sebab itu, para supervisor hendaknya mengikuti terus perkembangan masalah-masalah pendidikan guna mengemukakan gagasan-gagasan ideal bagi perkembangan pendidikan dan pengajaran mutakhir.
Supervisor dituntut untuk banyak membaca dan menghadiri pertemuan-pertemuan profesional, dimana ia dituntut untuk saling tukar menukar informasi tentang masalah-masalah pendidikan dan pengajaran yang dianggap relevan, yakni berupa gagasan-gagasan baru mengenai teori dan praktek pengajaran.
Adapun sebagai fasilitator supervisor harus memperjuangkan dan mengusahakan agar sumber-sumber profesional baik materi berupa alat dan buku-buku pengajaran serta sumber belajar lainnya, sehingga pada gilirannya supervsior dapat menyediakan kemudahan-kemudahan bagi guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Sedangkan sebagai motivator, supervisor hendaknya membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik, dalam hal ini guru-guru di dorong untuk mempraktekan gagasan-gagasan baru yang dianggap baru serta membawa ke arah penyempurnaan proses pembelajaran, kerjasama kelompok, serta merangsang lahirnya ide-ide baru dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaharuan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Selain keterampilan-keterampilan di atas, seorang supervisor dapat juga dikatakan sebagai seorang manajer karena memiliki tiga keterampilan sebagai berikut :
a. Keterampilan konsep, yaitu menciptakan konsep-konsep baru dalam mengatasi masalah. Keterampilan ini sebagaian besar terjadi dalam perencanaan.
b. Keterampilan hubungan manusia, yaitu mampu melakukan komunikasi dengan baik, bergaul akrab, bisa bekerja sama, menciptakan iklim kerja yang kondusif dan sebagainya.
c. Keterampilan teknik, yaitu keterampilan dalam melaksanakan tugas-tugas langsung di lapangan dalam menyelesaikan masalah. Keterampilan ini dipakai terutama dalam mengendalikan para petugas di lapangan.
Dalam supervise kreatif, supervisor berkreasi dan berinovasi dalam membimbing guru untuk mengajar. Biasanya supervisor melihat situasi dan kemampuan guru itu mengajar. Setelah memahami kondisi guru lalu supervisor mencoba metode pembimbing yang baru dia kreasikan, misalnya dengan memberikan pendampingan kepada guru ketika mengajar. Artinya ketika guru melakukan kesalahan sekecil apapun segera ditegur oleh supervisor supaya guru memperbaikinya.
BAB III
KESIMPULAN
Supervise merupakan sebuah profesi yang mulia kerena mereka selalu membimbing dan membentuk guru-guru menjadi lebih baik yang kemudian melahirkan guru yang professional dan generasi yang tangguh juga faham dan kretif. Untuk menjacapai tujuan dan impian tersebut, maka tiada cara yang lain melainkan pendidiknya harus professional dan untuk membentuk guru yang professional, maka harus ada supervisor yang paham danprofesional. Dan menjadi sebuah harapan dari makalah ini supaya pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan dapat membentuk khusus jurusan atau keahlian supervise pendidikan. Dengan demikian maka impian menjadikan pendidikan di negri ini lebih maju dari sekarang akan terwujud.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar