MAJA LABO DAHU SEBAGAI GURU MASYARAKAT MBOJO
(oleh Sayhruddin)
A. Pengertian Falsafah Maja Labo Dahu
Ungkapan “Maja Labo Dahu” terdiri dari tiga suku kata yang masing-masing memiliki makna tersendiri yaitu, kata Maja, kata Labo, dan kata Dahu. Arti harfiah dari “Maja” ialah “Malu”, “Labo” berarti “dengan/dan” sedangkan “Dahu” berarti “takut” dengan demikian makna harfiah dari ungkapan “Maja Labo Dahu” ialah “malu dan takut”. Dalam pandangan dan pemahamaan masyarakat Mbojo / Bima, Falsafah Maja Labo Dahu memiliki makna filosofi yang begitu dalam dan luas. Dari oral histori para ahli sejarah, budayawan hingga tokoh agama masyarakat Bima yang berhasil penulis wawancarai, mereka mangatakan bahwa kata Maja memiliki makna "Malu" kepada Allah SWT. sebagai Tuhan dan masyarakat sebagai makhluk sosial dalam berbuat yang tidak sesuai dengan anjuran agama Islam dan adat masyarakat yang berlaku, sedang Dahu memiliki makna "Takut" kapada Allah SWT. dalam melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan dan ajaran Islam dalam segala bentuk dan perilaku hidup. Mungkin dari makna harfiah (Denotative) inilah timbulnya kecenderungan sekelompok orang menolak “Maja Labo Dahu” untuk dijadikan motto Daerah Bima. Dengan alasan bahwa “Maja Labo Dahu” mengandung makna negative bagi perkembangan jiwa dan kepribadian masyarakat. Masyarakat akan dihinggapi oleh penyakit “rendah diri, malas, pasrah dan pengecut”.
Maja (Malu)
Malu, ialah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau kurang sopan.
Malu merupkan ciri khas perangai manusia yang menyingkap nilai iman seseorang dan berpengaruh bagi tinggi rendahnya akhlak seseorang.
Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut baginya, maka di wajahnya nampak berubah menjadi pucat pasi sebagai perwujudan penyesalannya terlanjur berbuat yang tidak wajar. Itu menunjukkan hati kecilnya hidup, batinnya suci dan bersih.
Tetapi sebaliknya bagi seseorang yang sudah tidak memiliki rasa malunya, dia enak saja apabila melakukan perbuatan yang tidak patut, sekalipun banyak orang yang mengetahuinya. Orang yang demikian menunjukkan kasar perasaannya, selalu bersikap acuh tak acuh, tidak perduli dengan apa saja yang dia lakukan. Jelas orang yang semacam ini tidak baik, tidak mempunyai rasa malu untuk menjaga kehormatan dirinya dari perbuatan dosa, dan menurunkan derajatnya.
Islam telah mengingatkan kepada umatnya, agar memperhatikan rasa malu, karena rasa malu ini, dapat meningkatkan akhlaknya menjadi tinggi. Dan keistimewaan islam, ialah menjadikan rasa malu merupakan bagian dari pada iman, serta menjadikan akhlak mulia sebagai keistimewaan yang menonjol dalam islam. Rasulullah bersabda:
ان لكل دين خلق وخلق الاسلام الحياء (رواه مالك)
Artinya: “Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam itu perangai malu”. (HR. Imam Malik)
Orang yang mempunyai rasa malu, senantiasa dapat menahan diri dari perbuatan yang mengganggu manusia dan tidak mau menuturkan kata-kata yang keji dan buruk terkutuk.
Malu itu termasuk ke dalam golongan kesempurnaan akhlak dan kegemaran kepada sebutan baik. Orang yang tidak mempunyai sifat malu, rendah akhlaknya dan tak sanggup memegang nafsu.
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa seseorang yang telah lengkap padanya seluruh arti malu, sempurnalah padanya segala sebab kebajikan. Dan hilanglah dari padanya segala sebab kejahatan dan terkenallah di antara masyarakat dengan keutamaan dan disebut-sebut orang dengan keindahan dan keelokan.
Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang tinggi perangainya, paling mulia akhlaknya, paling tinggi ketaatannya kepada segala perintah Allah dan segala tugas kewajiban kemasyarakatannya, dan selalu menahan diri dari segala laranganNya.
Dari abi Sa’id al-Khudzri berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اشد حياءمن العذراءفى خذرهافاذاراىشيئايكرهه عرفناه فى وجهه. (متفق عليه)
Artinya: “Adalah Rasulullah saw lebih pemalu dari gadis dalam pingitan. Dan bila terjadi sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengenal dari wajhnya.” (Bukhari dan Muslim)
Termasuk rasa malu, apabila seorang muslim merasa malu untuk mendekati kejahatan, demi memelihara nama baik, bersih dari noda-noda dan isu-isu yang buruk.
Yang paling baik bagi seorang muslim, ialah apabila melakukan keburukan dan kehinaan merasa malu bila dilihat oleh orang lain, maka hendaknya demikian pula merasa malu dilihat diri sendiri.
Sifat rasa malu pada seseorang, bukan berarti pengecut. Memang adakalanya di dalam rasa malu terkandung rasa takut dalam arti memelihara kehormatan dan kemuliaan pribadi dan akhlak yang terpuji. Malu dan takut nama baiknya terhanyut oleh arus kehinaan. Perasaan malu dan takut dalam bentuk ini sejalan dengan keberanian yang terpuji.
Al-Quran menerangkan situasi ketika orang-orang Yahudi mundur memerangi musuh yang datang ke tanah suci:
“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (S. Al-Maidah: 23)
Demikianlah orang-orang yang bertakwa kepada Allah, takut tercela di sisi Allah, malu mundur dari medan perjuangan dan itulah yang boleh disebut pemimpin.
Rasa malu yang sempurna didahului oleh siap mental, karena dalam diri manusia ada watak-watak yang hampir selamanya bersih, yang nampak pada saat-saat yang kritis. Di saat orang tengah melakukan kejahatan, hilanglah rasa malu untuk sementara, tetapi di dalam keadaan situasi yang menjepit, maka waktu kemanusiaannya itu kelihatan, karena memang pada manusia ada watak-watak yang hampir selamanya bersih.
Dahu (Takut)
Takut, ialah apa yang dimaksud cemeti, yaitu mendorong untuk berbuat. Kalau tidak tercipta adanya dorongan seperti itu, maka takut itu sendiri tidak sempurna. Karena takut pada hakekatnya ialah kekurangan yang bersumber dari kebodohan dan kelemahan.
Adapun kebodohan yang berarti adalah tidak tahu akibat pekerjaannya. Kalau tidak tahu, tentu ada rasa takut, karena yang menakutkannya ialah yang terjadi keragu-raguan. Adapun kelemahan ialah mendatangkan kepada yang ditakuti, yang tidak sanggup ia menolaknya. Jadi takut itu terpuji kalau dikaitkan dengan kekurangan manusia. Dan yang terpuji pada dirinya dan sosoknya ialah: ilmu, kemampuan dan setiap apa yang memperbolehkan Allah Ta’ala disifatkan dengannya. Sedangkan yang tidak boleh disifatkan Allah Ta’ala dengannya, maka sosoknya itu tidaklah sempurna.
Takut kalau tidak membekas pada amal perbuatan, maka adanya seperti tidak adanya. Seperti cemeti yang tidak menambah geraknya binatang kendaraan. Kalau dapat membekas, maka baginya memperoleh berbagai derajat.
Takut itu adalah api yang membakar keinginan-keinginan syahwat, sedang keutamaannya ialah menurut kadar yang membakar keinginan syahwat itu dan menurut kadar mengekang perbuatan-perbuatan maksiat dan yang dapat menggerakkan kepada perbauatan-perbuatan ta’at kepada Allah.
Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Pada ayat lain surat Al-Bayyinah ayat 8, Allah menggambarkan mereka oran-orang yang memiliki sifat takut:
“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)
Kata “Maja” dan “Dahu” memiliki arti lebih dari satu (homonim), selain makna negatif juga berkonotasi positif bagi jiwa, kepribadian serta sikap masyarakat. Kita harus sadar bahwa “Maja Labo Dahu” sebagai “Fu’u Mori Ro Woko” (tiang atau pedoman hidup) masyarakat Mbojo/Bima merupakan ‘ungkapan” yang memiliki makna yang luas dan mulia bagi manusia dari segi “sare’at, hakekat dan ma’rifat” (Syari’at, Hakekat dan Ma’rifat).
Guna memahami kata “Maja” dan “Dahu” secara jelas mari kita simak arti dua kata tersebut, dalam kalimat dan ungkapan di bawah ini:
a. Arti Negatif
1. “Ma Maja Ro Dahu Si Sodi Guru, Wati Di Ma Loa Sa Ntoi Mori”. Kalau malu dan takut bertanya pada guru, tidak akan bisa pandai sepanjang hayat.
2. “Maja Ro Dahu Si Rewo Labo Dou Ma Mboto, Wati Ntaumu Iwa”. Kalau malu dan takut bergaul dengan orang banyak (masyarakat), tidak akan mempunyai teman (sahabat).
Kata “Maja” dan “Dahu” pada dua kalimat di atas mengandung pengertian yang negatif. Kata “maja” bermakna segan, rendah diri serta tidak memiliki harga diri, sehingga menimbulkan sikap “Dahu” dalam arti bimbang, ragu, tidak berani bertindak. Dua sikap tersebut akan melahirkan sosok pribadi yang lemah.
b. Arti Positif
1. “Maja Kai Pu Ma Taho, Dahu Kai Pu Ma Iha”. Terjemahannya: malulah pada yang baik dan takutlah pada yang jelek (buruk). Ungkapan ini mengandung makna manusia memiliki rasa “Maja” (malu) apabila menjauhi kebaikan atau kebenaran. Mereka harus berjuang untuk mewujudkan kebaikan dan kebenaran. Selain itu manusia diharuskan untuk “Dahu” (takut) pada kejahatan, dengan kata lain manusia berkewajiban untuk menjauhi semua kejahatan.
2. Indokapo Di Fu’u Ro Tandi’i Na Ba Mori Ro Woko De Anae, Ede Ru “Maja Labo Dahu”. Arti harfiah dari ungkapan ini ialah “adapun yang menjadi tiang utama (soko guru) dari hidup dan kehidupan itu anakku ialah “malu dan takut”. Ungkapan ini memiliki makna yang luas dan mulia. Para orang tua menasehati anaknya agar memegang teguh sifat “maja labo dahu” dalam mengemban tugas sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah.
Maja Labo Dahu dalam arti di atas (negatif), adalah merupaka anggapan sebagian masyarakat awam Mbojo/Bima yang menurut penulis adalah anggapan yang salah kaprah dan hanya melihat arti kata belaka. Dan ini merupakan sebuah pemahaman yang perlu dipahami lebih jauh dan dalam terhadap makna falsafah tersebut, karena tanpa kita menafikan bahwa falsafah tersebut lahir dan berkembang di masyarakt bima yang merupakan bentuk kongkrit dari adapt dan budaya bima yang mengimplementasikan nilai-nilai al-Quran dan Hadis.
Kalau kita kembali pada arti yang sebenarnya, maka Falsafah Maja Labo Dahu yang merupakan landasan hidup bagi masyarakat Bima, memiliki arti serta makna yang positi bagi masyarakat.
B. Konsep pendidikan yang terkandung dalam Falsafah Maja Labo Dahu
Berbicara mengenai konsep pendidikan yang terkandung dalam falsafah Maja Labo Dahu, maka terlebih dahulu kita harus memahami pengertian dan konsep pendidikan secara umum yang ditawarkan oleh para ahli dan tokoh pendidikan. Secara terperinci di bawah ini penulis akan menjelaskan pengertian dan konsep pendidikan menurut para ahli:
a. Arti pendidikan secara etimologi
Paedagogie berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “PAIS”, artinya anak, dan “AGAIN” diterjemahkan membimbing, jadi paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak.
b. Secara definitif pendidikan (paedagogie) diartikan oleh para tokoh pendidkan, sebagai berikut:
John Dewey menjelaskan Pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intlektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
SA. Bratanata dkk. Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.
Pendidikan menurut Al-Ghazali ialah menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan yang baik. Jadi pendidikan itu suatu proses kegiatan yang sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progresif pada tingkah laku manusia, misalnya sejauh mana perubahan yang mungkin dapat dicapai pada diri manusia dengan usaha-usaha itu. Mungkinkah akhlak yang buruk itu dapat dilenyapkan dan akhlak yang baik ditanamkan sepenuhnya?
Menurut Crow dan Crow pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang sesuai dengan kegiatan seseorang untuk kehidupan sosialnya dan membantunya meneruskan kebiasaan-kebiasaan dan kebudayaan, serta kelembagaan sosial dari generasi ke genarasi.
Driyarkara menjelaskan pendidikan sebagai memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani itulah yang menjelma dalam perbuatan mendidik.
Pengertian pendidikan menurut GBHN, yaitu pendidikan nasional yang berakal pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab I (Ketentuan Umum) Pasal I, menjelaskan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam Dictionary of Education pendidikan berarti kumpulan dari semua proses yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan-kemampuan, sikap-sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku yang bernilai positif di dalam masyarakat tempat dia hidup.
Dari berbagai definisi tersebut, penulis menarik satu kesimpulan tentang pendidikan yaitu sebuah proses secara sadar atau sengaja yang berkaitan dengan hal apa saja yang dapat menjadikan seseorang menjadi lebih maju, lebih matang, mandiri sehingga mencapai tujuan sebagai insan yang sempurna dan bertanggung jawab dalam segala hal.
Konsep pendidikan yang ditwarkan oleh para ahli di atas, sangat berkaitan sekali denagan falsafah Maja Labo Dahu yang memiliki makna yang begitu dalam terhadap pendidikan agama (akhlak) pada masyarakat bima secara umum. Khusunya pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua yakni pendidikan sejak dini.
Dalam perkembangan sejarah masyarakat Bima, falsafah Maja Labo Dahu sangat memberikan pengaruh yang begitu besar dalam tatanan kehidupan bermasyarakt dan beragama. Hal ini dapat kita lihat dalam beberapa hal:
1. Pendidikan formal
Sebelum lebih detail membahas konsep pendidikan formal yang terkandung dalam falsafah Maja Labo Dahu, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.
Dikatakan formal karena diadakan di sekolah/tempat tertentu, teratur sistematis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu tertentu, serta berlangsung mulai dari TK (Taman Kanak-kanak) sampai PT (perguruan tinggi), berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.
Jadi, dapat dimengerti bahwa sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapih dan segala aktifitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum.
Pendidikan formal sangat dibutuhkan di dalam masyarakat demi membangun sumber daya manusia yang berilmu dan bermoral.
Beberapa manfaat dari pendidikan formal adalah:
a. Membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki dan memperdalam/memperluas, tingkah laku anak/peserta didik yang dibawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat.
b. Mengembangkan kepribadian peserta didik lewat kurikulum agar:
1) Peserta didik dapat bergaul dengan guru, dengan teman-temannya dan masyarakat.
2) Peserta didik belajar taat kepada peraturan/tahu disiplin
3) Mempersiapkan peserta didik terjun di masyarakat berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Dari penjelasan di atas maka dapat dijelaskan bahwa konsep pendidikan yang terkandung dalam falsafah Maja Labo Dahu (pendidikan formal), terlihat pada proses belajar mengajar dan kurikulum sekolah.
Dalam pendidikan formal, konsep pendidikan yang terkandung dalam Falsafah maja labo dahu tercermin pada sikap seorang pendidik sebagai panutan (tauladan), juga menjadi garis-garis haluan baik dalam penyusunan kurikulum maupun dalam proses menjalankan pendidikan itu sendiri. Artinya maja labo dahu merupakan cermin ataupun haluan dalam menjalankan pendidikan di sekolah.
2. Pendidikan non Formal
Falsafah Maja Labo Dahu sangat berpengaruh sekali pada pendidikan non formal pada masyarakat Bima, karena antara falsafah hidup dengan masyarakatvmerupakan dua hal yang tidak bias dipisahkan. Dan sebagaiman kita ketahui bersama, falsafah merupakan tolak ukur atau pegangan hidup pada suatu masyarakat atau komunitas. Masyarakat Bima merupakan komunitas yang nota bene masyarakat islami. Adalah sebuah kaharusan bagi masyarakata Bima dalam menjalankan roda kehidupan, berpegang teguh pada falsafah hidup yaitu Maja Labo Dahu yang merupakan cerminan atau inplementasi dari nilai-nilai al-Quran dan hadis. Falsafah Maja Labo Dahu menjadi dasar pendidikan bagi masyarakat Bima sekaligus menjadi tujuan dari pendidikan itu sendiri, sehingga dalam pendidikan non-formal ini falsafah maja labo dahu menjadi suatu yang sangat berpengaruh dan berperan aktif. Hal ini secara eksplisit dapat penulis jelaskan sebagai berikut:
a. Keluarga
Sesui dengan ajaran Islam, kita meyakini bahwa keluarga merupakan unit dalam struktur masyarakat, sekaligus menjadi unsure penting dalam pembangunan masyarakat. Tidak tergambar adanya masyarakat muslim yang terdiri atas orang-orang yang terlantar tanpa berafiliasi pada sebuah keluarga tertentu. Dalam pandangan islam, peran pendidikan dan pengasuhan anak-anak oleh ayah dan ibu mereka dalam keluarga tidak bias digantikan dengan sebuah kondisi yang ditelantarkan di luar rumah. Pada masa adolesens, anak-anak membutuhkan suasana hangat, kasih saying, dan pengasuhannfitrahnya sehingga dapat terhindar dari perilaku menyimpang dan kenakalan remaja serta tindak kejahatan dan prilaku keji.
Pengasuhan anak-anak dalam lingkungan keluarga secara islami dapat mengantarkan pertumbuhan generasi muda dalam lingkungan kehidupan keluarga yang baik, yaitu berdasarkan kecintaan dan mengutamakan kebaikan. Di tambah lagi dengan rasa saling mencintai antaranggota keluarga, berbakti kepada orang tua, dan menyayangi anak-anak.
Bagi Al-Gazali, anak kecil itu dilahirkan dalam keadaan berjiwa lurus dan bersifat sehat, dan bahwa dua orang tuanyalah yang menentukan agama untuknya dan dua orang tuanya pula yang membuatnya tabi'at jelek. Dan bahwa hal-hal yang tidak baik itu, dipelajari anak dari lingkungan hidupnya, dari cara ia diperlakukan serta adapt istiadat yang berlaku di sekitarnya. Sifat dasar anak kecil yang asli dan baik berasal dari penciptanya. Ia berawal dari tidak sempurna tetapi masih mungkin disempurnakan, diperindah dengan pendidikan walaupun merupakan salah satu pekerjaan berat.
Dalam kaitannya dengan falsafah maja labo dahu pada masyarakat bima, maka kita akan mengetahui pendidikan yang sesungguhnya adalah dimulai dari lingkungan keluarga dan terimplementasi dalam sikap sosial kemasyarakatannya.
Sejak lama masyarakat Mbojo/Bima telah menyadari pentingnya pendidikan sumber daya manusia sebagai kelangsungan hidup masyarakat. Salah satu peningkatan sumber daya manusia yang paling kongkrit adalah dengan melalui ilmu pengetahuan.
Sejak dini orang tua memberikan pendidikan agama dan umum kepada anak mereka. Karena orang yang berilmu akan Maja untuk berbuat yang tidak benar dan takut untuk berbuat yang salah.
Usaha awal yang mereka lakukan ialah meningkatkan keimanan dan ketakwaan anak-anak dalam usia dini, melalui pelajaran agama. Mulai umur empat tahun anak disuruhbbelajar ngaji, sehingga pada usia tujuh tahun sudah mampu membaca al-Quran. Kemampuan dalam membaca al-Quran akan diuji dalam upacara "tama" atau "khata qaro'a". dalam waktu yang bersamaan si anak harus disuruh melakukan shalat dan puasa.
b. Masyartakat
Sebelum penulis menjelaskan pendidikan masyarakat yang terkandung dalam falsafah Maja labo Dahu ada baiknya kita memahami mengenai apa itu masyarakat? Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu --kecil atau besar-- yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan hidup bersama.
Manusia adalah "makhluk sosial". Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw., dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut. Khalaqal insan min 'alaq bukan saja diartikan sebagai "menciptakan manusia dari segumpal darah" atau "sesuatu yang berdempet di dinding rahim", tetapi juga dapat dipahami sebagai "diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri." Ayat lain dalam konteks ini adalah surat Al-Hujurat ayat 13. Dalam ayat tersebut secara tegas dinyatakan bahwa manusia diciptakan terdiri dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, menurut Al-Quran, manusia secara fitri adalah makhluk social dan hidup bermasyarakat merupakan satu keniscayaan bagi mereka.
Jadi, pada dasarnya masyarakat tidak ada yang berdisi sendiri tanpa memerlukan bantuan ataupun pertolongan orang lain, dan merupakan sifat dasar manusia yaitu kecil, lemah, dan penuh keluh kesah tanpa daya upaya melainkan memerlukan pertolongan Tuhan dan bantuan sesama manusia.
Tingkat kecerdasan, kemampuan, dan status sosial manusia menurut Al-Quran berbeda-beda:
•
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Al-Zukhruf: 32)
Dari penjelasan ayat di atas, perbedaan-perbedaan tersebut bertujuan agar mereka saling memanfaatkan (sebagian mereka dapat memperoleh manfaat dari sebagian yang lain) sehingga dengan demikian semua saling membutuhkan dan cenderung berhubungan dengan yang lain. Ayat ini, di samping menekankan kehidupan bersama, juga sekali lagi menekankan bahwa bermasyarakat adalah sesuatu yang lahir dari naluri alamiah masing-masing manusia.
Seperti halnya dalam dunia pendidikan pada umumnya, bahwa komponen pendidikan pada dasarnya tidak terlepas dari tiga pusat pendidikan/tri mitra pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat.
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
Norma-norma masyarakat yang berpengaruh tersebut sudah merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi mudanya. Penularan-penularan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan ini sudah merupakan proses pendidikan masyarakt.
Menurut masyarakat Bima, pendidikan akhlak merupakan factor penentu bagi perkembangan semua unsure kebudayaan kongkrit yang berwujud kelakuan (tingkah laku). Sebab itu pembinaan akhlak melalui pendidikan agama harus dilakukan sedini mungkin oleh orang tua sebagai pendidik utama dan pertama, dibantu oleh anggota keluarga yang lain terutama kakek dan nenek.
Hal ini dapat terlihat dengan masih besar pengaruh para ulama dan masyarakat umum mengontrol secara langsung tentang pengamalan nilai-nilai maja labo dahu sebagai Fu’u Mori ro Woko masyarakat Mbojo/bima sehingga menjadikan masyarakat bima menjadi masyarakat yang berkahlak mulia (beriman dan bertakwa).
Masyarakat muslim menurut Ending Saifuddin Anshari, adalah masyarakat yang teosentris dan etika-religius. Artinya, masyarakat yang serba Tuhan yang segala aktivitas hidupnya diwarnai moral dan etika islam. Sebagai masyarakat teosentris, mereka senantiasa menempatkan Tuhan sebagai arah dan tujuan akhir hidup yang ingin diraih.
Setiap masyarakat di manapun berada, tentu mempunyai karakteristik tersendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang berbeda dengan karakteristik masyarakat lain, namun juga mempunyai norma-norma yang universal dengan masyarakat pada umumnya.
C. Pengaruh Falsafah Maja Labo Dahu Terhadap Kehidupan Masyarakat Bima
Maja labo dahu sebuah gagasan yang islami. Pada tanggal 5 Juli 1640, telah terjadi peristiwa penting yang merupakan momentum bagi perkembangan politik, agama dan social budaya di kalangan masyarakat Mbojo (bima) pada masa selanjutnya. Mulai saat itu sistim pemerintahan kerajaan berakhir, diganti dengan sistim pemerintahan yang berdasarka islam dan sistim budaya (adat) yang berpedoman pada norma agama islam (‘urf shahih). Mulai saat itu islam (agama samawi) resmi menjadi agama Negara, menggantikan posisi agama budaya (makamba makimbi) yang sudah membaur dengan agama hindu dan budha. Seiring dengan perubahan agama masyarakat, maka berubah pula sistim budayanya (adatnya). Sistim budaya lama yang tidak islami (‘urf fasid) diganti dengan adat yang islami (‘urf shahih). Perubahan adat sebagai wujud kebudayaan yang abstrak, akan sangat mempengaruhi wujud kebudayaan kongkrit, yaitu sistim sosial dan kebudayaan fisik (material). Mulai saat itu perkembangan sistim sosial dan kebudayaan fisik harus berpedoman pada norma agama islam, dengan perkataan lain kebudayaan Mbojo adalah kebudayaan islam, terutama dari segi substansinya.
Agar adat Mbojo benar-benar menjadi “adat yang baik” (‘urf shahih) maka penguasa dalam hal ini ulama, terutama ulama yang menjadi anggota lembaga pemerintah bernama “sara hukum”/lembaga hokum yang merumuskan sebuah gagasan baru yang islami yang diambil dari intisari iman dan takwa, guna memperkaya gagasan yang terkandung dalam adat Mbojo. Gagasan baru ini diberi nama “Maja Labo Dahu” (malu dan takut). Maja Labo Dahu berisi perintah kepada seluruh lapisan masyarakat yang telah mengikrarkan kalimat tauhid, untuk mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam urusan Ubudiayah maupun Muamalah. Sebagai seorang yang beriman dan bertakwa, mereka harus merasa malu dan takut kepada Allah, pada manusia (masyarakat) dan pada dirinya.
D. Nilai-nilai yang terkandung dalam Falsafah Maja Labo Dahu
Falsafah Maja Labo Dahu memiliki makna yang sangat baik untuk diterapkan kedalam kehidupan masyarakat Mbojo, diantara nilai-nilai tersebut adalah nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Secara terperinci akan dijelaskan di bawah ini.
1. Nilai Keimanan dan Ketakwaan
•
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dari kacamata agama, Maja Labo Dahu merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beriman dan bertakwa. Sebab orang yang beriman harus memiliki sifat Maja dan orang yang bertakwa harus memiliki sifat Dahu kepada Allah dan Rasulnya. Ukuran “Taho” (kebaikan) dan “Iha” (kejahatan) pada ungkapan tersebut di atas adalah berpedoman pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam iman daerah takwa. Orang yang benar-benar beriman atau percaya pada “Ruku Ba Imbi Ini Ori” (rukun iman/percaya pada enam perkara) dalam pengertian orang yang beriman kepada Allah, malaikat, kitabullah, Rasulullah, hari pembalasan, dan qadha dan qadar (takdir), harus memegang teguh sifat “Maja” (malu).
Manusia yang beriman harus memiliki takwa yang berkualitas. Mereka harus memegang teguh sifat “Dahu” (takut) terhadap kejahatan, karena takut kepada Allah. Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, mereka selalu melaksanakan “Ruku Isla Lima Ori” (rukun islam lima perkara), secara utuh dan kontinyu, sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya seperti yang tertera dalam kitab suci al-Quran dan Sunnah Rasul.
Orang-orang yang beriman selalu merasa dirinya diawasi dan dekat dengan Rabnya sehingga tidak ada celah dan kesempatan baginya untuk berbuat kerusakan dan kejahatan baik kepada manusia maupun kepada makhluk Allah lainnya.
Akidah merupakan asas pertama dan utama. Dari akidah ini akhlak mulia akan terpancar dan berdasarkan akidah ini pula syari’at ditegakkan. Ia merupakan penjaga (pemelihara) sanubari untuk senantiasa taat dan konsisten (istiqamah) serta penanggung jawab yang kuat terhadap masyarakat untuk menjauhkannya dari kerusakan dan penyaimpangan.
Pada dasarnya fungsi dan peranan Maja Labo Dahu, pada masyarakat Bima adalah untuk menumbuhkan serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, agar dapat melakukan tugasnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi, selalu mendekatkan diri kepada kepada-Nya melalui kegiatan Ubudiah serta Muamalah. Dengan perkataan lain manusia harus mengadakan hubungan Vertikal dan Horizontal, sehingga cita-cita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat dapat dicapai.
Apabila fungsi dan peranan Maja Labo Dahu sudah terlaksana, maka cita, rasa, karsa dan karya manusia akan bermanfaat bagi “Dou Labo Dana” (rakyat dan Negara). Seseorang baru dapat berbuat demikian, apabila dalam pribadinya terdapat:
a. Takwallah (takut kepada Allah)
b. Siddiq atau jujur
c. Amanah
d. Tabligh
e. Cerdik, dan
f. Adil.
Jika seseorang sudah memiliki serta mengamalkan enam nilai tersebut di atas, ia akan mampu mengemban tugas dengan bik dan benar. Akan berperan sebagai “Hawo Ro Ninu” (pengayom dan pelindung) rakyat dan negeri. Dalam melakukan tugasnya, selalu memegang teguh nilai-nilai luhur Maja Labo Dahu.
Jadi, seseorang yang beriman harus mengarahkan segala sesuatu di dalam kehidupannya kepada Rabb-nya dan merasa sepenuhnya bahwa Allah senantiasa bersamanya, mendengar, dan melihat dirinya. Hal ini merupakan perasaan yang kontinyu dan jaminan untuk meluruskan jiwa, mendidik sanubari, mensucikan dan membersihkan tingkah laku.
2. Nilai Akhlak
Akhlak secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu kata jama’ dari Khuluqun yang berarti perangai atau prilaku.
Menurut Barmawie Umary, akhlak adalah mufrod dari Khilqun atau Khuluqun yang mengandung segi-segi persesuaian dengan Khalqun serta erat hubungannya dengan Khaliq dan Makhluq. Dari sinilah asal perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi yang memungkinlakn timmbulnya hubungan yang baik atara makhluk dengan Khaliq dan antara makhluk dengan makhluk.
Kata Khulqun ini juga dapat dijumpai dalam al-Quran surat Al-Qalam ayat 4:
Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Dengan perkataan lain, ilmu akhlak adalah, menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan, menunjukkan jalan untuk melakukan perbuatan, menyatakan tujuan di dalam perbuatan. Jadi, ilmu akhlak adalah ilmu yang mempersoalkan baik buruknya amal yang terdiri dari perkataan, perbuatan atau kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin.
Muhammad Saw, sebagai Nabi sekaligus menjadi Rasul Allah telah menjadikan al-Quran sebagai pegangan hidup dan dari al-Quran-lah prilaku atau akhlak yang ditampilkannya.
Untuk menggali ketinggian dan kemuliaan akhlak Rasulullah Saw maka kita harus memahami al-Quran. Pemahaman mengenai al-Quran harus dimulai sejak dini sehingga proses membaca, mengkaji dan menelaahnya dan pada akhirnya dapat termanifestasikan kedalam kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai al-Quran (Maka tentu saja yang diharapkan adalah terbentuknya akhlak islami).
Akhlak Islami yang dimaksud, menyangkut bagaimana hubungan Vertikal antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khalik (pencipta) dan hubungan Horizontal antara sesama manusia serta hubungan antara manusia denagn alam lingkungannya.
sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 112:
•• ...
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (QS. Ali Imran: 112)
Dari penjelasan ayat ini dapat dipahami bahwa akhlak islami itu menyangkut segala aspek kehdupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah, sesame manusia maupun dengan alam sekitarnya.
Akhlak Islami itu tidak lain dari pelaksanaan ajaran al-Quran, maka pembentukan akhlak islami itu sendiri adalah proses pengajaran al-Quran atau sosialisasi ajaran al-Quran.
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada poin-poin terdahulu, kehidupan masyarakat Bima yang penuh dengan sopan santun, lemah lembut dan ramah, atau berakhlak mulia, itu semua merupakan pengamalan daripada intisari dari al-Quran sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.