Rabu, 18 November 2009


"/tmp/upload/97d643081a06ad51063227624c0e817f106e8f94568ef40b3d63abb266aeef631/Copy of IMG_0275.jpg"

Selasa, 17 November 2009

'Ulumul Qur'an

Makalah ini dipresentasikan sebagai tugas individu pada mata kiliah 'ulumul Qur'an Program Pasca Sarjana PTIQ-Jakarta Konst. Manajemen Pendidikan Islam.
by. Hanafi
BAB I
PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkan dari langit lewat Malaikat Jibril AS. Kepada Rasul Allah Muhammad saw., sebagai pedoman hidup yang menuntun manusia untuk keluar dan manjalani roda kehidupan, memberikan kemudahan, menjadi mukjizat bagi Rasul dan umatnya. Oleh karena itu, Sulit dibayangkan sekiranya umat Islam tidak memiliki Al-Qur’an. Padahal ia adalah umat terakhir, umat yang diutus Allah sebagai saksi atas perbuatan semua manusia, dan umat terbaik yang rasulnya menjadi rahmat bagi alam semesta (Rahmatan Lil ‘Alamin). Atau sulit dibayangkan sekiranya al-Qur’an yang ada di tangan umat ini bukan berasal dari ‘Tangan’ Zat yang maha mengetahui segala sesuatu yang gaib dan yang zahir.
Fenomena Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw., ternyata bagaikan magnet yang selalu menarik minat manusia untuk mengkaji dan meneliti kandungan makna dan kebenarannya. Kendatipun Al-Qur’an sebagai mukjizat dari dzat penguasa alam yang selalu dan manjadi pedoman hidup seluruh alam tetap akan menjadi sebuah kitab yang suatu saat tidak relevan dengan keadaan dan masa jikalau diturunkan dengan satu bentuk atau satu huruf. Dengan demikian al-Qur’an diturunkan atas ‘tujuh huruf’(sab’at ahruf), angka yang begitu sempurna yang bertujuan untuk megkafer semua bahasa, dialek, wajah, bentuk dan perbedaan dianatara manusia muslim. Namun ini pun menjadi polemik pengertiannya di kalangan ulama, polemik ini bermuara pada pengertian sab’ah dan ahruf itu sendiri, dan korelasinya dengan cakupan mushaf Usman.
Jauh sebelum ini, para ulama terdahulu telah memperdebatkan masalah yang terkandug dalam pembahasan “sab’atu ahruf” hingga melahirkan banyak pendapat seputar apa arti Al-Qur’an itu diturunkan atas tujuh huruf, bagaimana maksudnya dan apakah tujuh huruf tersebut telah terkafer semuanya dalam mushaf Usmani juga apakah qira’ah sab’ah yang mashur sekarang adalah wujud dari tuuh huruf tersebut??? Serta bagaimana sikap kita sebagai seorang intelektual muslim menyikapi peredaan-perbedaan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
SAB’ATU AHRUF
A. Hadis-Hadis Tentang Sab’atu Ahruf
Al-Qur’an diturnkan sebagai Mukjizat untuk semua atau seluruh alam semesta, yang diturunkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang arab dengan maksud untuk mempermudah mereka memahaminya, sebagai ajakan tandingan kepada orang-orang yag pandai berbicara agar mendatang satu surat atau satu ayat. Disamping itu untuk mempermudah bacaan pemahaman dan hafalan Al-Qur’an bagi mereka, sebagaimana Allah SWT. berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.”
Dengan segala kemudahannya Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh Huruf sebagaimana yang diuraikan oleh Rasulullah dalam sabdanya sebagai berikut:
Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas r.a bahwa ia berkata, Rasulullah SAW. Bersabda:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حَدَّثَهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ

“Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku dengan satu huruf, kemudian aku mengulanginya (setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan ia pun menambahiku sampai dengan tuju huruf”.
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ الْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَبْدٍ الْقَارِيَّ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا سَمِعَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ
سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَمَعْتُ لِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا هُوَ يَقْرَأُ عَلَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمْ يُقْرِئْنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكِدْتُ أُسَاوِرُهُ فِي الصَّلَاةِ فَتَصَبَّرْتُ حَتَّى سَلَّمَ فَلَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَقُلْتُ مَنْ أَقْرَأَكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ قَالَ أَقْرَأَنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ كَذَبْتَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَقْرَأَنِيهَا عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأْتَ فَانْطَلَقْتُ بِهِ أَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ بِسُورَةِ الْفُرْقَانِ عَلَى حُرُوفٍ لَمْ تُقْرِئْنِيهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسِلْهُ اقْرَأْ يَا هِشَامُ فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةَ الَّتِي سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ ثُمَّ قَالَ اقْرَأْ يَا عُمَرُ فَقَرَأْتُ الْقِرَاءَةَ الَّتِي أَقْرَأَنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

Dari Umar Bin Khattab, ia berkata, “Aku mendengar Hisyam Bin Hakim membaca surah Al-Furqan di masa hidup Rasulullah, Aku perhatikan bacannya, tiba-tiba ia membacakannya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku balambaknya disaat ia sholat, tetapai aku urngkan, mak aku menunggu sampai salam. Begitu selesai, aku tarik pekaiannya dan aku katakan kepadanya, “sipa yang mengajarkan bacan surah itu kepadamu?’ ia manjawab, ‘Rasulullah yang mambacakannya kepadaku , ‘kamu dusta! Demi Allah, Rasulullah dtelah membacakan juga kepadaku surah yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. Kemudian aku bawa dia menghadap Rasulullah, dan aku ceritakan kapadanya bahwa aku telah mendengar orang ini memabacakan surah al-Furqon dengan surah-surah yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engau sendiri telah membacakan surah al-furqon kepadaku. Maka Rasulullah berkata, “lepaskan dia: “bacalah wahai umar!” lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajakan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah, “bagitulah sutrat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu diantaranya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, abu Daud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir).
Al-Hafiz Abu Ya’la dalam musnad kabirnya meriwayatkan bahwa pada suatu hari Usman r.a. berkata di atas mimbar, “aku sebut nama Allah ketika teringat eorang lelaki yang mendengar Rasulullah SAW. Berkata: Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuannya tegas lagi sempurna.”
Ketika umar berdiri, hadirinpun berdiri sehingga tidak terhitung dan mereka menyaksikan pula bahwa rasulullah SAW bersabda, “Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuannya tegas lagi sempurna (lengkap).” Kemudian Usman r.a. berkata, saya menyaksikannya bersama mereka.
Imam Ahmad mengeluarkan hadis dengan sanadnya dari Abi Qais maula Amar bin Ash dari Amr, bahwa ada seseorang yang membaca satu ayat Al-Qur’ankemudian Amr berkata kepadanya, “sebenarnya ayat itu begini dan begini. Setelah itu, ia mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW., beliau menjawab, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, mana saja yang kalian baca berarti benar dan jangan kalian saling meragukan.
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan di atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang dirasakan mudah dari padanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

B. Definisi Sab’atu Ahruf
Tidak terdapat nas sarih yang menjelaskan maksud dari sab’at ahruf. Sehingga menjadi hal yang lumrah kalau para ulama, berdasarkan ijtihadnya masing-masing, berbeda pendapat dalam menafsirkan pengertiannya. Ibn Hibban al-Busti (w. 354 H) sebagaimana dikutip Al-Suyuti mengatakan bahwa perbedaan ulama dalam masalah ini sampai tiga puluh lima pendapat. Sementara Al-Zarqani dalam kitabnya hanya menampilkan sebelas pendapat secara detail dari perbedaan-perbedaan ulama tersebut. Perbedaan ulama mengenai pengertian sab’at ahruf ini tidak berasal dari tingkatan kualifikasi mereka atas hadis-hadis tentang tema dimaksud. Perbedaan itu justru muncul dari lafaz sab’at dan ahruf yang masuk kategori lafaz-lafaz musytarak, yaitu lafaz-lafaz yang mempunyai banyak kemungkinan arti, sehingga memungkinkan dan mengakomodasi segala jenis penafsiran. Selain itu juga disebabkan adanya fenomena historis tentang periwayatan bacaan al-Qur’an yang memang beragam.
Pengertian atau yang dimaksud dengan tujuh huruf yaitu tujuh segi bacaan .
“Al-Ahruf” adalah bentuk jaama’ dari lafaz “harf”. Lafaz “harf” ini mempunyai makna yang banyak, salah seorang pengarang kamus mengaakan “harf”dari segala sesuatu berarti ujungnya atau tepinya. Sedangkan “harf” gunung berarti puncaknya. Pengertian hurf adalah salah satu bentuk huruf hijaiyah. Sebagian oarang ada yang mengabdi pada Allah secara “harf” dalam arti hanya dari satusegi saja, tidak dalam keadaan luka, ragu dan tidak tenang. Dengan kata lain, kita memasuki agama tidak secara mantab. Dengan demikian
أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
Al-Qur’an diturunkan atas makananya. “dari tujuh bahasa orang-orang arab”, bukan pengertiannya bahwa setiap huruf mempunyai tujuh pengertian.
Arti Sab’atu Ahruf (Tujuh Huruf) dalam hadits di atas mengandung banyak penafsiran dan pendapat dari kalangan ulama. Hal itu disebabkan karena kata Sab’ah itu sendiri dan kata Ahruf mempunyai banyak arti. Kata Sab’ah dalam bahasa Arab bisa berarti bilangan tujuh, dan bisa juga berarti bilangan tak terbatas. Sedang kata Ahruf adalah jama dari harf yang mempunyai macam-macam arti, antara lain, salah satu huruf hijaiyah, makna, saluran air, wajah, kata, bahasa, dan lain-lain. Para Ulama telah mencoba menfsirkan Sab’atu Ahruf, yang menurut Imam As-Suyuti, tidak kurang dari empat puluh penafsiran. Al-Harf menurut penulis al-Qamus : “Al-Harf” dari segala sesuatu berarti “tepinya”, pinggirnya dan batasnya. Al-Harf dari gunung adalah puncaknya. Ia juga merupakan satuan dari huruf-huruf hija’iyah. Berarti pula “onta yang kurus” atau “onta yag mengagumkan”, tempat mengalirnya air ataupun batas wilayah.

C. Pendapat Para Ulama Tentang Sab’atu Ahruf
Dalam hal mentafsirkan al-Qur’an yang diturunkan atas tujuh huruf para ulama babeda pendapat atau banyak ditemukan perselisihan diantara mereka. Dibawah ini pemakalah akan menguaraikan beberapa pendapat tersebut diantaranya adalah:
1. Sebagaian orang arab berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari kalangan orang arab dalam pengertian yang sama. Dengan pengertian dialek orang-orag arab dalam mengungkapkan sesuatu maksud itu berbeda-beda, sedangkan Al-Qur’an datang dengan menggunakan lafaz-lafaz menurut dialek tersebut.
2. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah tujuh bahasa orang-orang arab yang menjadi tempat-tempat Al-Qur’an diturunkan yaitu bahasa-bahasa yang paling baik dikalangan Arab.
3. Yang dimaksud “Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf” tujuh macam (bagian) di dalam Al-Qur’an. Namun meeka berbeda pendapat dalam menetukan macam (bagian) dan uslub pengungkapannya. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa dimaksud adalah: amar, nahi, halal, haram, muhkam, mutasyabbih, dan amsal.
4. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah beberapa segi lafal yang berbeda, dalam satu kalimat dan satu arti seperti lafal: halumma, aqbil, ta’al, ajjil, isra’, qasdi, dan nahwi, yang etuuh lafal itu memiliki satu pengertian yaitu perintah untuk menghadap. Pendapat ini dikemukakan oleh kebanyakan ahli fikih dan hadis antara lain ibnu jarir, At-Tabari, dan At-Tahawi.
5. Yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah mengenai tujuh perbedaan dalam tujuh hal:
a. Perbedaan nama-nama dalam bentuk mufrad, muzakkar dan cabang-cabangnya.
b. Perbedaan tasrif fi’il dari bentuk mudhari’, madi dan amar.
c. Perbedaan dalam ibdal (penggantian).
d. Perbedaan dalam takdim dan takhir yang adakalanya dalam bentuk huruf, dalam bentuk kalimat aktif diaca dalam bentuk fasif atau sebaliknya.
e. Perbedaan dalam segi i’rab (harakat akhir kata).
f. Perbedaan dari segi penambahan dan pengurangan.
g. Perbedaan lahjah tentang tafkhim dan tarqiq, imalah, izhar, dan idgham.
Pendapat yang terakhir ini dikemukakan oleh Imam Ar-Razi dan didukung oleh Ibnu Qutaibah, Ibnu Jazari, dan Ibnu Thayib yang dinukul oleh Az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan yag diperkuatnya dengan beberapa dalil.
Para ulama berselisih pendapat mengenai haikikat makna tujuh huruf. berikut beberapa pandangan ulama, tentang hakikat makna tujuh huruf.
1. Larangan, perintah, halal, haram, peringatan, perbandingan dan hujah
2. Balasan baik dan buruk, halal haram, peringatan, perbandingan dan hujah.
3. Tujuh Bahasa yaitu Quraisy, Yaman, Jarha, Hairizam, Qurdaah, Al-Tamim dan Ther.
4. Tujuh Qiraat sahabat yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Usman, ‘Ali, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas dan Ubay bin Ka’ab.
5. DZahir, batin, fardu, sunat, khusus, umum, dan perbandingan.
6. Depan, akhir, faraid, hudud, peringatan, mutasyabihah dan perbandingan.
7. Perintah, larangan, akad (jual beli), ilmu ghaib, zahir dan batin.
8. Hamzah, imalah, baris atas, baris bawah, tebal, panjang dan pendek.
9. Perintah, larangan, berita gembira, peringatan, khabar, perbandingan dan peringatan
Demikianlah pendpat ulama yang bermacam-macam mengenai maksud tujuh huruf dalam Al-Qur’an.
Sebahagian ulama mengatakan bahwa Al-Ahruf As-Sab’ah (huruf yang tujuh) yang diturunkan ke dalam al-Qur’an, tidak mungkin dimaksudkan Qira’ah Sab’ah (bacaan yang tujuh) yang mashur itu. Hal ini ditegaskan dikarenakan banyaknya ulama yang menyangka bahwa Qira’ah Sab’ah dimaksudkan dengan huruf yang tujuh.
Abu Syamah di dalam kitab Al-mursyid Al-Wajiz berkata: “segolongan orang menyangka bahwa Qiro’ah Sab’ah yang berkembang sekarang, itulah yang dikehendaki dalam hadis persangkaan yang demikian berlawanan dengan ijma’ semua ahli ilmu”
Jumhur ulama cenderung berpendapat bahwa, Mushaf reproduksi Usman mencakup gambaran tentang “tujuh huruf” Al-Qohdi Abubakar bin Thoyyib Al-Baqlani membenarkan pendapat tersebut dan mangatakan “yang banar adalah bahwa masalah “tujuh huruf itu muncul dan berasal dari Rasulullah saw. kemudian dicatat oleh para pemimpin umat, lalu dicantum oleh Usman dan para sahabat Nabi lainnya di dalam mushaf serta dinyatakan kebenarannya.
Dalam menyikapi semua hal di atas pemakalah berpendapat bahwa tidak ada satu alasanpun yang kuat yang menjadi dasar kita untuk mengatakan bahwa turunnya al-Qur’an dengan tujuh huruf atau tujuh wajah, itu tidak banar. Dikarenakan banyak sekali dalil naqli yang membenarkan hal tersebut berupa hadis-hadis shohih bahkan Mutawatir. Menjadi sebuah permasalahan ketika kita meragukan bahwa Al-Qur’an diturunkan atas tujuh huruf karena dilihat dari segi manapun hal (sab’atu ahruf) itu pasti kuat dan benar. Contohnya dilihat dari segi sejarah dan keadaan ketika Al-Qur’an diturunkan bahwa pada saat itu bangsa Arab terbagi dalam suku-suku dan memiliki dialek (bahasa) yang berbeda-beda sehingga ada kemungkinan Allah swt. menurunkan Al-Qur’an dengan tujuh huruf / tujuh dialek atau tujuh wajah bermaksud untuk mengkafer kesemua golongan tersebut. Dari segi kemudahan bahwa Al-Qur’an dirunkan dengan bahasa Arab bertujuan memberikan kemudahan kepada umat / bangsa Arab dalam membaca, memahami dan menghafal setiap ayat yang diturunkan, sehingga dengan demikian diturukannya Al-Qur’an dengan tujuh huruf dimaksudkan untuk tidak adanya diskriminasi dalam tubuh bangsa Arab itu sendiri, dan pemakalah keyakinan bahwa bagaimanapun Al-Qur’an itu ditunkan, itu semua dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pada semua bangsa dan manyatukan umat Islam di bumi.

TARJIH (penganalisisan)
Menurut pemakalah salah satu pendekatan yang dapat kita pakai dalam memahami Sab’atu Ahruf, yaitu dengan memahami latar belakang kondisi masyarakat Arab yang terbagi dalam kabilah-kabilah. Masyarakat Arab adalah masyarakat yang dulunya nomaden. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari sumber-sumber kehidupan.
Nah, kabilah-kabilah Arab tersebut menyebar ke berbagai tempat dan mempunyai cara bertutur kata atau dialek masing-masing. Dalam sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan beberapa ahli, termasuk Abdul Shabur Shahin, intelektual Mesir, dialek orang Arab terbagi menjadi dua, yaitu dialek suku-suku yang mendiami perkotaan (hadlari) dan suku-suku di pedesaan (badawi).
Suku-suku badawi menempati Jazirah Arab sebelah timur, seperti Ubail, Thaif, sampai ke Najed, sekarang Riyadh. Dialek mereka cenderung kuat, menggunakan penekanan atau syiddah dalam berkata-kata. Dalam pengucapan hamzah, misalnya, harus jelas. Huruf hamzah pada pengucapan kata a-andzartahum atau al ardlu benar-benar terucapkan. Di sisi lain, mereka suka mempersingkat kata-kata. Misalnya, ya’lamuma, mereka singkat menjadi ya’lamma. Kata fihi hudan menjadi fiihudan.
Pedapat yang hampir mendekati kebenaran adalah pendapat yang terakhir yang pilih oleh Imam Al-Razi dan dipegang oleh Imam Al-Zarqoni dalam kitabnya Manahilul Irfan “Sab’atu Ahruf” yaitu dengan Sab’atu Aujuh (tujuh wajah) yang dari awal sampa akhir wajah al-Qur’an tidak keluar tujuh wajah perbedaan, yaitu:
1. Perbedaaan dalam bentuk isim
2. Perbedaan dalam bentuk fi’il
3. Perbedaan dalam bentuk i’rab
4. Perbedaan dalam bentuk tabdil
5. Perbedaan dalam bentuk naqish dan ziadah
6. Perbedaan dalam bentuk taqdim dan ta’akhir
7. Perbedaan dalam bentuk wajhah.
Dan pendapat ini diperkuat dengan alasan sebagai berikut:
1. Pendapat ini didukung oleh hadis-hadis sebagaiman tersebut di atas.
2. Pendapat ini berpegang pada teori penyelidikan yang mendetail terhadap qira’at dan sumbernya yaitu tentang huruf yang tujuh.
3. Tidak ada bantahan terhadap pendapat ini.

D. Manfaat Mengetahui Sab’atu Ahruf
Ada beberapa manfaat yang menurut hemat pemakalah yang langsung maupun tidak dari kita mengetahui sab'atu Ahruf atau turunya Al-Quran dengan tujuh huruf yaitu sebagai berikut:
a. Dapat menambah khazanah keilmuan kita tentang ke-Al-Qur'an-an atau Islam pada umumnya sehingga menjadi lebih bangga danpercaya diri sebagai seorang Muslim dan menambah keyakinan akan kemukjizatan Al-Qur'an.
b. Menghimpun umat Islam yang baru ke dalam satu dialek, yaitu dialek Quraisy yang Al-Qur'an turun dengannya dan banyak sekali dialek-dialek pilihan dari suku-suku Arab yang sering datang ke Mekkah pada musim-musim haji dan pasar-pasar Arab yang terkenal.
c. Tidak saling menyalahi anhtara satu dengan lainnya seperti yang telah terjadi di masa umar dan sahabat-sahabat yang lain dan terhindar dari kesalah pahaman.
d. Yang terutama sekali adalah mempermudah umat Islam, khususnya bangsa Arab yang menjadi tempat diturunkannya Al-Qur'an, sedangkan mereka memiliki beberapa dialek (lahjah), meskipun mereka bias disatukan oleh sifat kearabannya. Manfaat ini sesuaidengan sabda Rasulullah saw., "agar mempermudah ummatku". Dan sesungguhnya umatku tidak mampu melaksanakannya."dan lain-lain.
e. Memberikan pengetahuan lebih rinci tentang latar belakang bangsa Arab pra-Islam dari segi bahasa yang digunakan oleh suku-suku waktu itu.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Al-Qur’an menjadi Mu’jizat yang sangat mulia dengan segala keilmuan yag terkandung di dalamnya, diantaranya adalah Sab’atu Ahruf yang begitu komplek maknanya sehingga melahirkan perbedaan pendapat diantara ulama-ulama dan umat Islam. Namun begitupun berbedanya pendapat paa ulama akan tetapi Sab’atu Ahruf, merupakan masalah yag dilandasi dengan dalil-dalil nash yang begitu kuat dan shohih sehingga tidak boleh kita ragugan lagi bahwa Al-Qur’an itu diturunkan atas tujuh wajah yang bertuuan untuk mempermudah manusia muslim dalam membacanya, mempelajari dan manghafal ayat-ayatnya. Menjadi lebih kaya dan berkualitas keilmuan kita ketika mempelajari dan memahami hal tersebut.

B. SARAN
Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini, menjadi bahan rujukan kita dalam menulis karya ilmiah dan bermanfaat bagi saiapapun yang membacanya. Bagitupun maksimalya usaha kami memberikan yang terbaik dalam makalah ini, namun tetap terdapat kekurangan dan kekeliruan di dalamnya. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari sahabat-sahabat yang bersifat membangun sehingga terciptanya kearifan dalam diri juga karya kita dikemudian hari.
REFERENSI

Senin, 03 Agustus 2009

renungan 23


Hanafielsilaputerabimasejati
"Sebuah Renungan"
Bismillahirrahmanirrahim..
Hari ini adalah hari senin 8 juni 2009, hari yang sangat mulia dan misterius dalam dunia ini, hari yang menyimpan rahasia kehidupan yang tidak terjangkau oleh alam pikiran manusia dan menjadi hari yang sangat bersejarah, berarti bagi pimpinan umat Rasul SAW. Mungkin dalam benak kita, sedikit terbayang dan secara tidak sadar kita berucap.. “OOh Iya Ya..perasaan sering saya dengar bahwa hari senin merupakan hari yang bermanfaat.. dan secara spontan-pun kita akan bertanya pada diri kita… ada rahasia apa dibalik hari senin, kenapa dulu waktu SD, guru agama selalu menganjurkan kepada kami untuk membiasakan diri puasa sunnah pada hari senin…??? Ini semua merupakan pertanyaan yang sepele dan sering dilupakan oleh kita sebagai insan muslim yang katanya beriman dan beramal sholeh..!!!
Kawan… dalam hidup dan kehidupan itu tidak ada satu hal-pun yang boleh kita anggap sepele apalagi kita sengaja atau so’ menganggapnya tidak penting..sebab semua hal tercipta dengan sempurna dan lahir dari sebuah konsep keadilan Tuhan.. ketika kita menganggap suatu hal itu tidak penting, pada saat yang sama mungkin hal itu yang sangat bermanfaat bagi kita juga mungkin pada waktu yang sama jua kita telah dzolim terhadap ciptaan Tuhan dan kita-pun berdosa atas hal yang kita anggap sepele.. Na’udzubillah.. sedikit kutipan dan wahyu samawi.. “Jangan engkau menganggap suatu hal itu buruk karena suatu hal yang buruk dimata kamu itu, belum tentu di mata Allah buruk”.
Kawan.. semua kejadian, waktu juga makhluk di bumi ini yang begitu ragam macamnya, jenis dan bentuknya, ada yang jelek, bagus, indah, serem, hina, dll., semua itu tercipta dengan adil dan sempurna adanya dan paing utama adalah memiliki nilai lebih masing-masing.. di bawah ini, kita akan sdikit merenung tentang bagaimana dan apa rahasia hari senin dalam sejarah Rasul juga kenapa saya sampai merenung pada hari yang begitu cerah ini…
Pada hari senin, semua peristiwa penting dalam sejarah Rasul Muhammad saw. terjadi, paling tidak ada lima peristiwa yang sangat berarti dalam kehidupan beliau yang terjadi pada hari tersebut, yaitu lahirnya baginda Rasul Muhammad, diangkatnya menjadi Rasul, hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, dan wafatnya beliau juga pada hari senin, selain itu, satu hal lagi peristiwa yang begitu mulia, bersejarah dan misterius bagi Rasul dan manusia, juga terjadi pada hari yang sama yaitu peristiwa dijalankannya oleh Allah swt. Rasul Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga diangkatnya beliau ke hadapan Allah Tuhan semesta alam (Sidratulmuntaha) yang kita kenal dengan peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad saw. Itulah kemuliaan hari senin yang terjadi dalam kehidupan Rasulullah, hal ini sama dengan kemulian Nabi Adam AS., yang diciptakan pada hari Jum'at, diturunkannya ke bumi, diterima tobatnya, dan dikebalikannya kehadapan Allah juga pada hari jum'at.
Pada hari ini jua (senin), merupakan hari yang bersejarah dalam kehidupan seorang hanafi el-Sila yang merupakan hari lahir dan awal menghirup udara dunia. Dan hari ini tanggal 8 Juni 2009, juga merupakan awal bagi saya menghirup udara dunia baru dalam usia yang ke 23 tahun, begitu semua terjadi tanpa terasa.
Puji syukur kupanjatkan kepada Allah swt yang hingga saat ini selalu memberikan berbagai macam nikmat dan umur panjang N mudah-mudahan umur baru menjadi sebuah langka awal untuk lebih memperbaiki semua amal sehingga aq lebih bisa mengenal diri-q sendiri dan bermanfaat bagi orang lain amin...!!!
Hari ini adalah hari ulang tahun-q yang ke-23, merupakan hari begitu ceria dan bahagia bagi-q sekaligus menjadi hari yang sedih bagi diri-q.
Senang dan bahagianya diri-q pada hari ini dikarenakan merupakan hari ulang tahun yang pertama dirayakan dengan penuh keceriaan dan special perayaannya oleh orang" dekat-Ku. Juga diwaktu yang sama aq-pun merasa sedih kerena tanpa disadari pintu kematian telah dekat dengan jiwa-q.
Banyak hal yang membuat diri-q bahagia dan lebih bangga menjadi seorang hanafi di tahun 2009 ini, di akhir april lalu tepatnya rabu 29 april, menjadi hari yang bersejarah dalam hidup-q, dimana pada hari itu, aq telah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikanq pada bangku kuliah yang berkat perjuangan dan pertolongan Allah dapat terselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan banyak hal lain yang sadar atau tidak menjadikan-q sangat ceria dan menikmati hidup. Semoga hari ini dan semua hal-hal di atas menjadi acuan untuk mendapatkan hal yang lebih pada hari esok.. Amin...!!!
Wasalam "el-Sila"

Tilawah

Novel

SANGSAKA MERAH PUTIH.
Bismillahirrahmanairrahim..
Tulisan ini kupersembahkan untuk pejuang sejati dan sang rovolusioner dalam hidupku.. Yaitu Rasul saw. dan kedua orang tuaku.
Cerita ini menyoroti pendidikan orang miskin yang sangat tekun demi meraih cita-cita bangsa dan kehidupan sosial masyarakat desa yang penuh penderitaan dan gaya modernisasi orang kota.
Dari sebuah desa yang terpencil hidup dua orang anak yatim piatu dengan seorang kakek tua yang adalah dia merupakan mantan pejuang kemerdekaan yang terlupakan oleh bangsa. Hanya satu pesan yang selalu bersenandung dalam gemetar lidahnya ''wahai cucuku, kakek ga bisa berikan apa-apa kepada kalian kecuali sederetan kata nasehat; ''jadikanlah waktumu sebagai senjatamu untuk merubah nasibmu dan bangsamu, bangsa ini telah lama merdeka tetapi selalu terjajah, cucuku belajarlah...!!! Jangan pernah engkau gantungkan nasibmu kepada orang lain selain tuhanmu''. Nasehat itu selalu menjadi lantunan indah menemani tidur mereka.
Dalam era kehidupan, dunia telah terhegemoni dan terhipnotis oleh gaya kehidupan yang modernis hingga disudut desa-pun mengikuti gaya hidup dan budaya global tersebut. Namun berbeda dengan gaya hidup seorang kakek dan dua cucunya, mereka menjadi orang termiskin dengan sebuah gubug reoknya.
Dari latarbelakang kehidupan yang serba kurang, terdapat kebahagiaan dan cita-cita yang tinggi dari lubuk hati dua anak yatim piatu tersebut. Yang tertua merupakan kakak memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi dan bercita-cita menjadi seorang guru dan mencerdaskan bangsa, seorang adik laki-laki yang juga merasa sebagai seorang pemimpin dari kakak perempuannya memiliki rasa tanggungjawab yang kuat dan pribadi yang taat dan tangguh.
Satu tanggungjawab dan merupakan tujuan kakek dalam mengahiri perjalanan hidupnya adalah ingin melihat cucunya tersenyum dalam seragam sekolah. Dengan profesi jual kayu bakar, seorang kakek tua ini harus berjuang dan banting tulang melawan terik matahari yang sangat panas dan dinginnya hujan yang selalu menyelimuti perjalanan hidupnya demi mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup dan perjuangan untuk dapat membeli seragam sekolah untuk dua orang cucunya.
Kehidupan memang tidak adil ketika kita melihatnya dalam kaca mata manusia, namun itulah bagian dari keadilan langit, hal yang menurut kasat mata sangat diskriminasi menjadi sebuah konsep keadilan bagi raja langit.
Waktu berlalu bagai pedang yang tak kenal musuh, ketika kita lalai dengannya maka leher kita-pun ketebas. Sembari berjuang dengan waktu yang selalu mengejarnya, kakek tua selalu memberikan contoh perjuangan kepada kedua cucunya. Maka tibalah saat-saat dimana tujuan dan cita-cita kakek tua ini harus tercapai karena masa liburan sekolah telah tiba dan itu berarti dua pasang seragam sekolah harus ada. Hari-hari selalu dilewati oleh keluarga malang ini dengan penuh perjuangan, seoarang kakek harus mencari dan mengumpulkan kayu bakar di hutan, cucunya yang bontot bernama putra harus berjuang dalam menjual kayu bakar keringat kakeknya dan kakaknya tiara harus manjaga, manabung, dan menyiapkan segala keperluan di rumah.
Berbondong-bondong orang tua dan para tetangga bergegas ke sekolah untuk mendaftarkan anak-anak mereka dan ketika melihat hal tersebut sesekali tiara merasa sedih dan tidak tahan mengeluarkan air mata, begitupun kakeknya tidak bisa tidur karena memikirkan masa depan dua cucu penerusnya.
Pengumuman; hari ini adalah hari terakhir sekolah di desa kita menerima murid baru, maka diharapkan kepada bapak-bapak dan ibu sekalian yang belum mendaftarkan anak-anak dan cucunya untuk segera mendaftarkannya ke panitia sekolah. Itulah suara yang pertama kali mereka dengar ketika mentari pagi menyinari gelapnya malam. Hal itu membuat seorang kakek yang lagi sakit terbangun dan kaget dan menjadikan dua orang anak itu tersedih. Dari tempat tidurnya sambil batuk kakek bangun dan mengambil tabungannya dan ternyata duit hasil jerih payah selama ini belum cukup untuk membeli seragam kedua cucunya, hal itu membuat mantan pejuang ini merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya, kesedihan yang mendalam dirasakan oleh seoarang kakek tua tersebut, namun Sembari mengusap dua kelopak matanya tiara berkata ''kakek jangan sedih seperti itu lagi, walaupun duit yang kakek tabung selama ini belum cukup buat beli saragam dan saya juga putra tidak bisa ikut sekolah, kami tidak akan memaksakan itu terwujud karena kami yakin itu tidak akan menghambat kami untuk meraih cita-cita kami karena pendidikan bukan hanya didapat di bangku sekolah akan tetapi pendidikan dapat kami peroleh dimanapun kami berteduh, ia kek sambung putra menghibur kakeknya, kakek sekarang telah berhasil karena sudah menjadikan putra dan kak tiara sebagai cucu yang tangguh, sabar dan bisa menerima keadaan dunia''. Mendengar kebijaksanaan cucunya, kakek merasa terharu dan merasa sedih melihat potensi yang sangat besar dalam pribadi dan jiwa cucunya. Dalam hati kecilnya kakek bergumam sembari berharap kepada Tuhan: ''ya Allah.. Jikalau engkau menghendaki, berikan kesanggupan kepada-ku untuk menjadikan dua cucuku menjadi orang yang berguna, namun jikalau engkau berkehendak lain, berikanlah yang terbaik untuk dua cucuku''.
Tidak lama kemudian kakek menghilang dari tempat tidurnya dan membuat kedua cucunya merasa takut dan panik.
Tek..tek..tek..Assalamu'alaikum... Suara lemah seorang kakek terdengar dari depan pintu kantor sekolah.. Wa'alaikumussalam.. Masuk.. Jawab orang dalam ruangan.. Maka masuklah kakek dengan pakaiannya yang acak adut, di tangannya terlihat celengan dan selembar bendera ''Sangsaka Merah Putih'' yang telah kusut dan pudar warnanya oleh umur. Melihat kakek tua tersebut semua termenung, entah apa yang terpikir dalam benak mereka, seorang dari mereka dengan suara ragu, berkata, kakek ada yang bisa kami bantu...??? Iya nak.. Jawab kakek.. Kakek mau daftar cucu' kakek sekolah di sini, namun kakek tidak cukup uang untuk beli seragam mereka, mereka anak yang pintar, tekun dan ingin sekali untuk sekolah..tutur kakek menjelaskan maksud kedatangannya.. Ini kakek punya celengan dan bendera bekas kakek perang dulu, mungkin ini cukup buat daftar dan beli seragam buat cucu saya.. Tambah kakek untuk lebih meyakinkan panitia sekolah.. Melihat hal itu panitia menjadi bingung, di satu sisi mereka merasa kasihan dan ingin sekali membantu mengabulkan permintaan kakek tua tersebut namun di sisi lain mereka harus merujuk pada aturan berlaku di sekolah yang mengharuskan syarat-syarat tertentu yang antara lain adalah calon siswa harus memiliki sertifikat dari TK. Hal inilah yang menjadikan kakek ini tidak terkabulkan permintaannya, di samping syarat-syarat yang lain juga belum terpenuhi. dengan sulit panitia menyampaikan ''maaf kakek, cucu' kakek tidak memenuhi syarat untuk daftar di sini..!!!''. Pernyataan itu membuat kakek merasa sangat terpukul dan berusaha memohon kepada panitia untuk mau membantu dia dan cucunya.. Dengan penuh harapan kakek bertutur ''pak mohon bantu saya, cucu saya ingin menjadi bagian dari sekolah ini, ini adalah pertama dan mungkin yang terakhir saya memohon kepada bapak untuk membantu cucu saya, saya akan melakukan apa saja, yang penting cucu saya dapat sakolah, sebab itu menjadi cita-cita saya diwaktu tua ini''. Saya ingin melihat cucu saya tersenyum untuk bangsanya dalam bangku sekolah. Tambah kakek mengharap permohonannya dikabulkan.. Namun apa daya menjalankan tugas yang hanya menjalankan tugas dengan sebuah aturan, dengan penuh sopan petugas itu menjelaskan kembali ''maaf kek, kami tidak bisa melanggar aturan kami sendiri'', sembari memberikan masukan panitia yang lain mengatakan: kek coba di sekolah yang lain mungkin cucu kakek bisa diterima. Dengan penuh penyesalan dan rasa sedih yang mendalam kakek keluar dari kantor.
SAMBUNG LAGI YE.. YAKIN HANAFI BISA..

Jumat, 31 Juli 2009

KAJIAN


PENTINGNYA ILMU DAN AMAL
Oleh:Hanafi el-Sila

“Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat”, itulah hadist Nabi SAW yang mewajibkan kepada ummat manusia untuk selalu menuntut ilmu. Allah Ta’ala berfirman “Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al Mujadilah : Ayat 11).
Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan, jika ia tidak dibutuhkan maka iapun mencukupi dirinya”.
Al Qur’an dan Al Hadist banyak sekali memerintahkan pada kita semua untuk menuntut ilmu juga menerangkan keutamaan-keutamaan orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mu’adz Bin Jabal berkata, “Belajarlah ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah adalah kebaikan dan menuntut ilmu adalah ibadah pengkajiannya adalah seperti tasbih, penyelidikannya seperti jihad, pengajarannya adalah sedekah, dan pemberiannya kepada ahliyah adalah pendekatan diri kepada Allah. Ilmu adalah penghibur dikala kesepian, teman diwaktu menyendiri, dan petunjuk dikala waktu senang dan susah, ia adalah pembantu dan teman yang baik dan penerang jalan ke surga”.
Lebih daripada itu islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari dengan jalan menyampaikan dan mengajarkannya kepada orang lain serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari karena pada hakikatnya amalan itulah yang akan mengangkat derajat kita dihadapan ALLAH dan makhluq-Nya.
Nabi SAW selalu mendorong umatnya agar selalu menyebarkan kebaikan dan ilmu kepada orang sesudahnya supaya kebodohan tidak terjangkit pada diri manusia, Beliau bersabda,” sampaikanlah dariku walau satu ayat”
(H.R. Bukhari)

KEWAJIBAN MENGAMALKAN ILMU

Dari penjabaran di atas jelas bahwa Islam sangat mennuntut umatnya untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya demi kemaslahatan ummat. Akn tetapi sangat buruk akibatnya bila mana ilmu itu tidak diamalkan atau penyalahgunaan ilmu tersebut atau pengamalannya bertentangan dengan anjuran syariat, kalau hal ini terjadi maka ilmu teoritis seperti ini termasukm ilmunm yang tidak di ridhoi oleh Allah.
Sesungguhnya ilmu yang haq adalah ilmu yang dapat menerangi jiwa pemiliknya, bersenyawa dengannya. Sehingga yang jauh menjadi dekat, yang gelap menjadi dekat, yang gelap menjadi terang, menjadi pengobat bagi jiwa-jiwa yang sakit.
Dari Jabir Rasulullah SAW bersabda “ilmu itu ada dua : Ilmu yang meresap dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang hanya dilisan, itulah murka Allah atas manusia”.
Pertanyaannya adalah mana kategori ilmu yang diridhoi Allah dan mana kategori ilmu yang dimurkai Allah ? di atas telah dijelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa yang menjadikan pemiliknya bermanfaat bagi orang lain ketika ia dibutuhkan dan ketika ia tidak dibutuhkan maka ilmu itu mencukupi dirinya, akan tetapi ilmu yang akan dimurkai Allah adalah bukan hanya ilmu yang bisa mencelakakan manusia lain seperti ilmu sihir, santet, dan lain-lain. Akan tetapi, juga ilmu yang pada dasarnya baik hanya saja ia tidak bermanfaat bagi orang lain dengan kata lain ia adalah ilmu yang hanya dibawa-bawa, tak ubahnya seperti orang-orang yahudi yang “membawa-bawa” Taurat untuk bicara tanpa membawanya dalam berbuat dan bertindak. Mereka itu adalah golongan orang-orang yang diancam oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, “Perumpamaan orang-orang yang membawa-membawa Taurat, kemudian tidak mengamalkannya Tak ubahnya dengan HIMAR yang membawa sekumpulan kitab di punggungnya” (QS. AL Jumuah : ayat 5).
Begitulah perumpamaan Allah atas orang-orang yang tidak merealisasikan pengetahuannya yaitu bagaikan HIMAR yang membawa-bawa sekumpulan kitab di punggungnya yang tidak sedikitpun dia mengetahui apa isi kitab yang dibawanya. Lebih lanjut lagi Allah SWT melaknat orang-orang yang berilmu, tapi ia tidak mengamalkan ilmunya dalam Qs. Ashaff ayat 2-3. Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan?. Itu sangat lah dibenci di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.
Nabi SAW mengingatkan pada kita semua yang memiliki ilmu agar kita bangun dan sadar untuk mengamalkan ilmu mkita dijalan Allah karena sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan itu hanya akan memperberat siksa yang akan ditimpakan kepadanya. “seberat-berat siksa pada hari kiamat nanti, “kata Nabi SAW, “adalah ilmuwan dan cerdik pandai yang tidak menabur nilai manfaat dengan ilmunya”.
Ilmu disini adalah bukan sebatas hanya latihan berargumen dan olah otak semata, lebih dari itu ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan dan pengamalan ilmu tersebut dalam setiap gerak hidup di setiap tempat dan waktu. Disitulah ilmu akan menuai makna dan itulah hakekat ilmu yang dikehendaki Allah ta’ala.
Sesungguhnya eksistensi kedirian kita itu ditentukan oleh amal perbuatan kita. Sejarah membuktikan orang yang namanya harum di dunia ini adalah orang yang membangun eksistensi kediriannya di atas amal baiknya, sebagai contoh terbesar adalah Rasulullah SAW tauladan kita, beliau penyebar kedamaian dan kearifan di muka bumi ini, beliau dikenal sebagai orang nomor satu di dunia ini karena akhlak dan keteladanan beliau, subhannallah… semoga salam dan shalawat selalu tercurahkan atas beliau, keluarga dan sahabatnya, juga semoga kita termasuk ummat beliau yang selalu istiqomah dalam melaksanakan sunnah-sunnahnya dan mendapatkan syafaat dari belaiu kelak di hari kiamat AMIN…
Bila DESCARTES mengatakan ”Aku berpikir, maka aku ada”, maka kita harus membuat semboyan baru “Aku beramal, maka aku ada”, sebab keberadaan kita tidak hanya ditentukan oleh pikiran kita tapi lebih dari itu keberadaan kita ditentukan oleh amal berbuatan kita. Siapa yang menabur dosa, akan menuai siksa, dan siapa yang menabur maksiat akan menuai laknat, tapi siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebahagiaan, wallahu a’lam bi shawaf.
Dalam surat as-shaff di atas tadi dapat dilihat dengan jeli bahwasannya Al Qur’an sangat menuntut kita agar apapun yang kita ketahui mari kita sampaikan kepada saudara-saudara kita dan merealisasikannya dalam kehiduoan sehari-hari sebab Allah sangat membenci terhadap orang-orang yang menyampaikan suatu ilmu namun ia tidak melaksanakannya sendiri, dalam hadist Nabi, “Usamah Bin Zaid pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda “seseorang pada hari kiamat nanti ditemukan dan dicampakkan kedalam neraka, orang-orang itu berputar di neraka bagaikan seekor HIMAR yang berputar-putar pada tali pengikatnya. Disitu para penghuni neraka dikumpulkan, mereka berkata : wahai fulan, bagaimana keadaan kamu ? bukankah dahulu kamu menyuruh berbaut kebaikan dan melarang kemungkaran ? ia menjawab : dahulu aku menyuruh kalian berbuat kebaikan sementara aku tidak melaksanakannya”.
Dapat disimpulkan bahwa seorang yang dianugerahi ilmu kepadanya maka hendaklah ia mengamalkan ilmunya tersebut namun bila mana ia menyampaikan ilmu tersebut dan dia sendiri tidak mengamalkannya maka amatlah besar kebencian Allah atasnya, diakhirat dia akan dicampakan kedalam neraka sementara ilmunya di kategorikan sebagai ilmu yang tidak bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Nauzubillahi min zalik.
Sebagai penutup uraian singkat ini semoga kita termasuk orang-orang yang dapat mengamalkan ilmu yang kita miliki dan berlindung kepada Allah dari sekelompok orang-orang yang mempunyai ilmu, ia menyampaikannya pada orang lain namun ia sendiri tidak mengamalkannya.
Wallahu A’lam Bi Shawaf.

ISLAM-NYA DANA MBOJO

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI DANA MBOJO
Oleh Hanafi El-Sila

Berbicara sejarah masuknya Islam di Dana Mbojo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bima ini banyaklah masalah yang akan timbul disebabkan kurangnya informasi-informasi atau referensi-referensi dari catatan-catatan lokal Mbojo tentang bagaimana sejarah dan proses masuknya Islam di Dana Mbojo.
Untuk membantu menjelaskan sejarah masuknya Islam di Bima terdapat dua sumber catatan lokal Mbojo yang dapat kita pedomani yaitu catatan BO Istana dan BO Melayu.
Dari sumber yang pertama (BO Istana) hanya mencantumkan keterangan bahwa masuknya Islam di Dana Mbojo, itu ditandai dengan kehadiran para Muballig dari Tallo, Luwu dan Bone di Sape (nama daerah di ujung timur Bima) pada tanggal 11 Jumadil Awal 1028 H. (26 April 1618 M.), para Muballigh itu adalah Daeng Mangali dari Bugis bersama tiga orang masing-masing berasal dari Tallo, Luwu dan Bone. Dimana kehadiran mereka atas perintah Sultan Gowa untuk manyampaikan berita bahwa Raja Gowa, Tallo, Luwu dan Bone sudah memeluk agama Islam. Kemudian diberitakan pula bahwa pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1030 H. (7 Februari 1621), Putra Jena Teke La Ka’I bersama pengikutnya mengucapkan dua kalimat Syahadat dihadapan para Muballigh itu.

Dari peristiwa itu, keempat orang petinggi kerajaan tersebut mengganti nama sesuai nama Islam:
- La Ka’i (Ruma Ma Bata Wadu) menjadi Abdul Kahir
- La Mbila menjadi Jalaluddin
- Bumi Jara Mbojo Sape menjadi Awaluddin
- Manuru Bata menjadi Sirajuddin, yang kemudian menjadi Sultan Dompu. Menurut silsilah ia adalah putera Ma Wa’a Tonggo (Raja Dompu) dengan Isterinya, Puteri Raja Bima Ma Wa’a Ndapa.
Dari sumber BO Melayu juga tidak memberikan informasi yang memadai, hanya menjelaskan tentang peranan Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro dalam penyiaran Islam di Dana Mbojo pada masa Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I). kemudian keterangan tentang peranan Ulama Melayu anak cucu Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro dalam meneruskan perjuangan Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro yang sudah kembali ke Makassar.
Untuk mengatasi kebuntuan yang ada, maka perlu penulis jelaskan catatan-cacatan lokal dari daerah yang pernah menjadi pusat penyiaran Islam pada abad 16 M, yaitu cacatan dari Demak dan Ternate.
Berdasarkan keterangan dari cacatan lokal yang dimiliki, ternyata pada tahap awal kedatangan Islam di Dana Mbojo, peranan Demak dan Ternate sangat besar. Para Muballigh dan pedagang dari dua negeri tersebut silih berganti datang menyiarkan Islam di Dana Mbojo juga para pedagang Bima pun memliki andil dalam penyiaran Islam tahap awal. Secara kronologis penulis akan memaparkan proses kedatangan Islam di Dana Mbojo, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap pertama dari Demak
Sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511, Demak mengambil alih peranan Malaka sebagai pusat penyiaran Islam di Asia Tenggara, dan sejak itu pula Demak berhasil mengislamkan daerah-daerah di Jawa Barat dan di daerah-daerah Nusantara bagian timur seperti Ternate dan Tidore. Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 M. pada masa itu pelabuhan Bima telah ramai dikunjungi oleh para pedagang Nusantara, begitupun para pedagang Bima menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda dan Malaka serta singgah disetiap pelabuhan di wilayah Nusantara. Kemungkinan para pedagang Demak datang ke Dana Mbojo selain berdagang juga untuk menyiarkan Islam.
b. Tahap kedua dari Ternate
Ternate merupakan satu-satunya Negara Islam di Nusantara bagian timur, yang pada abad 16 M. muncul sebagai pusat penyiaran Islam. Menurut catatan Raja-Raja Ternate, pada masa pemerintahan Sultan Kahirun, Sultan Ternate ketiga (1536-1570) telah dibentuk aliansi Aceh-Demak-Ternate, dan juga telah dibentuk lembaga kerjasama Al Maru Lokalul Molukiyah yang diperluas istilahnya khalifah Imperium Nusantara. Aliansi ini dibentuk untuk meningkatkan kerjasama antara tiga Negara Islam itu dalam menyebarluaskan Islam di Nusantara, selain untuk kepentingan perniagaan.
Pada Masa Sultan Babullah (1570-1583), Sultan Ternate keempat, usaha penyiaran Islam semakin ditingkatkan dan pada masa beliaulah, para muballigh dan pedagang Ternate meningkatkan dakwah di Dana Mbojo. Pada masa pemerintahan Sultan Babullah ini, Ternate meraih kejayaan dengan memperluas wilayah kekuasaan, sehingga kira-kira pada tahun 1850 M. menguasai kepulauan yang tidak kurang dari 72 banyaknya. Diantara 72 pulau (negeri) yang dikuasai Babullah disebutkan Sangaji Kore di Nusa Tenggara Barat dan Sangaji Mena Di Bali. Kemungkinan yang dimaksud dengan Sangaji Kore di Nusa Tenggara Barat dalam kutipan ini adalah nama lain dari Sanggar dan kalau kemungkinan itu benar, maka pada masa itu Kore (Sanggar) dan Dana Mbojo sudah didatangi oleh para muballigh Ternate untuk menyiarkan Agama Islam.
Dari dua referensi dan catatan Raja-raja dan informasi BO di atas, penulis memberikan sebuah kesimpulan bahwa Islam masuk dan menyebarkan sayap ke tanah Bima sekitar abad XVI lewat para muballigh dari Demak dan Ternate, namun permasalahannya adalah Islam yang datang dari dua daerah ini tidak menyentuh keluarga kerajaan akan tetapi sebatas dakwah kepada rakyat. Sehingga sampai masuknya abad XVII Islam tidak begitu berpangaruh di tanah Bima dan resminya Islam masuk di tanah Bima sekitar tahun1621 yaitu pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1030 H. (7 Februari 1621), yang ditandai dengan syahadatnya Putra Jena Teke La Ka’I bersama pengikutnya dihadapan para Muballigh itu yang di utus oleh Sultan Alauddin Gowa, namun pada saat itu Bima dalam keadaan goncang (politiknya) karena La Ka’I sedang dikejar oleh pamannya sendiri yaitu Salisi yang berambisi untuk menjadi Raja, dia (La Ka’i) hendak dibunuh karena dianggap penghalang baginya untuk mewujudkan impiannya menjadi penguasa, hal itu terjadi setelah dia (Salisi) berhasil membunuh kakaknya La Ka’I yang merupakan Putera Mahkota juga dari Raja Samara.
Demi membantu penyiaran Islam di Bima, maka Jena Teke Abdul kahir meminta bantuan kepada Sultan Alauddin untuk membantu melawan Salisi dan tidak lama kemudian Sultan Alauddin mengirim ekspedisi untuk menyerang Salisi dan pengikutnya setelah misi perdamaian yang dikirim oleh Sultan Alauddin (Sultan I) di bawah pimpinan Lo’mo Mandalle tidak berhasil, ekspedisi bersenjata dikirim dari Makassar sebanyak tiga kali. Dua ekspedisi tersebut gagal dan karena merasa keamanan Abdul Kahir terancam, maka Sultan Abdul Kahir beserta pengikutnya hijrah ke Makassar. Di Makassar beliau mendalami Islam dari tiga orang ulama Minangkabau yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Di Tiro dan Datuk Ri Patimang. Kemudian tokoh muda Islam ini dinikahkan dengan puteri bangsawan Makassar, adik dari permaisuri Sultan Gowa yang bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kussuarang. Dari pernikahan itu lahir seorang putera yang diberi nama oleh orang Makassar “I Ambella” dengan nama Islam Abil Khair Sirajuddin. Dialah yang kelak akan melanjutkan perjuangan ayahnya Abdul Kahir. Setelah lama meninggalkan tanah Bima dan pada akhirnya tokoh-tokoh masyarakat Bima datang untuk kembali meminta bantuan kepada sultan Makssar, maka sekitar tahun 1640 (Muharram 1050 H) dikirimlah ekpedisi yang ketiga di bawah pimpinan Arrasulli (Karisulli) dan Jalaluddin (La Mbila). Ekspedisi ini berhasil mengalahkan kejahatan Salisi, Salisi bersama pengikutnya berhasil melarikan diri sampai ke Dompu. Ia terus dikejar oleh pengikut Abdul Kahir hingga Salisi terpaksa melarikan diri ke Desa Mata (wilayah Sumbawa) dan tinggal di Mata sampai dia meninggal.
Setelah berita kemanangan Jamaluddin (La Mbila) terdengar di Makassar, maka Sultan Makassar II Muhammad Said (anak Sultan Alauddin pengganti ayahnya yang telah meninggal) mengirimkan Abdul Kahir dan Bumi Jara (Awaluddin) kembali ke tanah tumpah darah (Bima) tercinta dan setelah tiga bulan kemenangan ekspedisi ketiga, yaitu pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1050 (5 Juli 1640 M) Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I oleh Majelis Hadat Dana Mbojo dan mulai saat itu berdirilah Negara Islam yang bernama Kesultanan berdasarkan ajaran Islam dan adat (sistim budaya) yang Islami. Jadi walaupun Islam di tanah Bima telah tersiar sejak abad XVI, namun baru diproklamirkan secara resmi pada abad XVII yaitu 5 Juli 1640 M. yang sampai sekarang dijadikan sebagai hari jadi Bima.