Senin, 03 Agustus 2009

Novel

SANGSAKA MERAH PUTIH.
Bismillahirrahmanairrahim..
Tulisan ini kupersembahkan untuk pejuang sejati dan sang rovolusioner dalam hidupku.. Yaitu Rasul saw. dan kedua orang tuaku.
Cerita ini menyoroti pendidikan orang miskin yang sangat tekun demi meraih cita-cita bangsa dan kehidupan sosial masyarakat desa yang penuh penderitaan dan gaya modernisasi orang kota.
Dari sebuah desa yang terpencil hidup dua orang anak yatim piatu dengan seorang kakek tua yang adalah dia merupakan mantan pejuang kemerdekaan yang terlupakan oleh bangsa. Hanya satu pesan yang selalu bersenandung dalam gemetar lidahnya ''wahai cucuku, kakek ga bisa berikan apa-apa kepada kalian kecuali sederetan kata nasehat; ''jadikanlah waktumu sebagai senjatamu untuk merubah nasibmu dan bangsamu, bangsa ini telah lama merdeka tetapi selalu terjajah, cucuku belajarlah...!!! Jangan pernah engkau gantungkan nasibmu kepada orang lain selain tuhanmu''. Nasehat itu selalu menjadi lantunan indah menemani tidur mereka.
Dalam era kehidupan, dunia telah terhegemoni dan terhipnotis oleh gaya kehidupan yang modernis hingga disudut desa-pun mengikuti gaya hidup dan budaya global tersebut. Namun berbeda dengan gaya hidup seorang kakek dan dua cucunya, mereka menjadi orang termiskin dengan sebuah gubug reoknya.
Dari latarbelakang kehidupan yang serba kurang, terdapat kebahagiaan dan cita-cita yang tinggi dari lubuk hati dua anak yatim piatu tersebut. Yang tertua merupakan kakak memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi dan bercita-cita menjadi seorang guru dan mencerdaskan bangsa, seorang adik laki-laki yang juga merasa sebagai seorang pemimpin dari kakak perempuannya memiliki rasa tanggungjawab yang kuat dan pribadi yang taat dan tangguh.
Satu tanggungjawab dan merupakan tujuan kakek dalam mengahiri perjalanan hidupnya adalah ingin melihat cucunya tersenyum dalam seragam sekolah. Dengan profesi jual kayu bakar, seorang kakek tua ini harus berjuang dan banting tulang melawan terik matahari yang sangat panas dan dinginnya hujan yang selalu menyelimuti perjalanan hidupnya demi mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup dan perjuangan untuk dapat membeli seragam sekolah untuk dua orang cucunya.
Kehidupan memang tidak adil ketika kita melihatnya dalam kaca mata manusia, namun itulah bagian dari keadilan langit, hal yang menurut kasat mata sangat diskriminasi menjadi sebuah konsep keadilan bagi raja langit.
Waktu berlalu bagai pedang yang tak kenal musuh, ketika kita lalai dengannya maka leher kita-pun ketebas. Sembari berjuang dengan waktu yang selalu mengejarnya, kakek tua selalu memberikan contoh perjuangan kepada kedua cucunya. Maka tibalah saat-saat dimana tujuan dan cita-cita kakek tua ini harus tercapai karena masa liburan sekolah telah tiba dan itu berarti dua pasang seragam sekolah harus ada. Hari-hari selalu dilewati oleh keluarga malang ini dengan penuh perjuangan, seoarang kakek harus mencari dan mengumpulkan kayu bakar di hutan, cucunya yang bontot bernama putra harus berjuang dalam menjual kayu bakar keringat kakeknya dan kakaknya tiara harus manjaga, manabung, dan menyiapkan segala keperluan di rumah.
Berbondong-bondong orang tua dan para tetangga bergegas ke sekolah untuk mendaftarkan anak-anak mereka dan ketika melihat hal tersebut sesekali tiara merasa sedih dan tidak tahan mengeluarkan air mata, begitupun kakeknya tidak bisa tidur karena memikirkan masa depan dua cucu penerusnya.
Pengumuman; hari ini adalah hari terakhir sekolah di desa kita menerima murid baru, maka diharapkan kepada bapak-bapak dan ibu sekalian yang belum mendaftarkan anak-anak dan cucunya untuk segera mendaftarkannya ke panitia sekolah. Itulah suara yang pertama kali mereka dengar ketika mentari pagi menyinari gelapnya malam. Hal itu membuat seorang kakek yang lagi sakit terbangun dan kaget dan menjadikan dua orang anak itu tersedih. Dari tempat tidurnya sambil batuk kakek bangun dan mengambil tabungannya dan ternyata duit hasil jerih payah selama ini belum cukup untuk membeli seragam kedua cucunya, hal itu membuat mantan pejuang ini merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya, kesedihan yang mendalam dirasakan oleh seoarang kakek tua tersebut, namun Sembari mengusap dua kelopak matanya tiara berkata ''kakek jangan sedih seperti itu lagi, walaupun duit yang kakek tabung selama ini belum cukup buat beli saragam dan saya juga putra tidak bisa ikut sekolah, kami tidak akan memaksakan itu terwujud karena kami yakin itu tidak akan menghambat kami untuk meraih cita-cita kami karena pendidikan bukan hanya didapat di bangku sekolah akan tetapi pendidikan dapat kami peroleh dimanapun kami berteduh, ia kek sambung putra menghibur kakeknya, kakek sekarang telah berhasil karena sudah menjadikan putra dan kak tiara sebagai cucu yang tangguh, sabar dan bisa menerima keadaan dunia''. Mendengar kebijaksanaan cucunya, kakek merasa terharu dan merasa sedih melihat potensi yang sangat besar dalam pribadi dan jiwa cucunya. Dalam hati kecilnya kakek bergumam sembari berharap kepada Tuhan: ''ya Allah.. Jikalau engkau menghendaki, berikan kesanggupan kepada-ku untuk menjadikan dua cucuku menjadi orang yang berguna, namun jikalau engkau berkehendak lain, berikanlah yang terbaik untuk dua cucuku''.
Tidak lama kemudian kakek menghilang dari tempat tidurnya dan membuat kedua cucunya merasa takut dan panik.
Tek..tek..tek..Assalamu'alaikum... Suara lemah seorang kakek terdengar dari depan pintu kantor sekolah.. Wa'alaikumussalam.. Masuk.. Jawab orang dalam ruangan.. Maka masuklah kakek dengan pakaiannya yang acak adut, di tangannya terlihat celengan dan selembar bendera ''Sangsaka Merah Putih'' yang telah kusut dan pudar warnanya oleh umur. Melihat kakek tua tersebut semua termenung, entah apa yang terpikir dalam benak mereka, seorang dari mereka dengan suara ragu, berkata, kakek ada yang bisa kami bantu...??? Iya nak.. Jawab kakek.. Kakek mau daftar cucu' kakek sekolah di sini, namun kakek tidak cukup uang untuk beli seragam mereka, mereka anak yang pintar, tekun dan ingin sekali untuk sekolah..tutur kakek menjelaskan maksud kedatangannya.. Ini kakek punya celengan dan bendera bekas kakek perang dulu, mungkin ini cukup buat daftar dan beli seragam buat cucu saya.. Tambah kakek untuk lebih meyakinkan panitia sekolah.. Melihat hal itu panitia menjadi bingung, di satu sisi mereka merasa kasihan dan ingin sekali membantu mengabulkan permintaan kakek tua tersebut namun di sisi lain mereka harus merujuk pada aturan berlaku di sekolah yang mengharuskan syarat-syarat tertentu yang antara lain adalah calon siswa harus memiliki sertifikat dari TK. Hal inilah yang menjadikan kakek ini tidak terkabulkan permintaannya, di samping syarat-syarat yang lain juga belum terpenuhi. dengan sulit panitia menyampaikan ''maaf kakek, cucu' kakek tidak memenuhi syarat untuk daftar di sini..!!!''. Pernyataan itu membuat kakek merasa sangat terpukul dan berusaha memohon kepada panitia untuk mau membantu dia dan cucunya.. Dengan penuh harapan kakek bertutur ''pak mohon bantu saya, cucu saya ingin menjadi bagian dari sekolah ini, ini adalah pertama dan mungkin yang terakhir saya memohon kepada bapak untuk membantu cucu saya, saya akan melakukan apa saja, yang penting cucu saya dapat sakolah, sebab itu menjadi cita-cita saya diwaktu tua ini''. Saya ingin melihat cucu saya tersenyum untuk bangsanya dalam bangku sekolah. Tambah kakek mengharap permohonannya dikabulkan.. Namun apa daya menjalankan tugas yang hanya menjalankan tugas dengan sebuah aturan, dengan penuh sopan petugas itu menjelaskan kembali ''maaf kek, kami tidak bisa melanggar aturan kami sendiri'', sembari memberikan masukan panitia yang lain mengatakan: kek coba di sekolah yang lain mungkin cucu kakek bisa diterima. Dengan penuh penyesalan dan rasa sedih yang mendalam kakek keluar dari kantor.
SAMBUNG LAGI YE.. YAKIN HANAFI BISA..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar