KEPEMIMPINAN
Oleh Hanafi.
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin. (al-hadits)
Menjadi seorang pemimpin merupakan sifat manusia yang telah dikaruniai oleh Tuhan dan menjadi keinginannya dimana-pun kita berada dan bergaul. Namun apakah kita mampu menjalankan amanah yang begitu besar ketika kita menjadi pemimpin dalam tataran social atau sekelompok manusia. Sebab menjadi pemimpin tidaklah semudah apa yang kita pikirkan. Ada hal-hal yang perlu kita perhatikan dan penuhi ketika kita ingin menjadi seorang pemimpin.
Dalam karya ilmiah ini, penulis mencoba menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam dunia pendidikan Islam, seperti criteria seorang pemimpin, cirri dan sifat seorang pemimpin juga yang berkaitan dengan macam-macam kepemimpinan dalam tinjauan teori. Semoga karya ilmiah yang begitu singkat ini bermanfaat bagi pembaca dan menambah khazanah keilmuan menuju peningkatan daya nalar dan kritik kita.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada hakikatnya kepemimpinan merupakan proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. Terdapat 3 (tiga) implikasi penting dari batasan kepemimpinan ini, yaitu: Pertana, Kepemimpinan melibatkan orang lain bawahan atau pengikut. Karena kesediaan mereka menerima pengarahan dari pemimpin, anggota kelompok membantu menegaskan status pemimpin dan memungkinkan proses kepemimpinan. Kedua, Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama diantara pemimpin dan anggota kelompok. Ketiga, Disamping secara sah mampu memberikan bawahan atau pengikutnya perintah atau pengarahan, pemimpin juga dapat mempengaruhi bawahan.
Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
A. HAKIKAT KEPEMIMPINAN
Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemauan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harusnya dilaksanakannya. Menurut Stoner, (1988) semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pimpinan, akan makin besar potensi kepemimpinan yang efektif. Jenis kepemimpinan ini bermacam-macam, ada pemimpin formal, yaitu yang terjadi karena pemimpin bersandar pada wewenang formal. Ada pula pemimpin informal, yaitu terjadi karena pemimpin tampa wewenang formal berhasil mempengaruhi perilaku orang lain.
Berbagai pendekatan dalam memecahkan masalah kepemimpinan telah dilakukan. Pendekatan pertama, yaitu mendekatan sifat yang memfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin. Pendekatan kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungan dengan bawahanya, pendekatan ketiga, yaitu pendekatan situsional yang memfokuskan pada kesesuaian antara perilaku pemimpin dengan karakteristik situsional.
B. SYARAT-SYARAT KEPEMIPINAN
Menurut Soedarsono (1984) sifat kepemimpinan merupakan kualitas pribadi yang sangat berharga. Dalam menjalankan kepemimpinan, antara sifat dan syarat kepemimpinan tak dapat dipisahkan, keduanya saling mengisi.
Keith Davis (1971), memperincikan syarat-syarat utama dari kepemimpinannya yang efektif, yang terdiri dari empat bagian penting yang dianggap sangat berpengaruh terhadap kesuksesan suatu organisasi, yaitu (1) kecerdasan, (2) kedewasaan dan keleluasaan hubungan social, (3) motivasi diri dan dorongan berprestasi, dan (4) sikap-sikap hubungan manusiawi.
Sedangkan Edwin Ghiseli, menyebutkan adanya beberapa syarat dari pada kepemimpinan yang efektif, yaitu:
a. Kemampuan pengawasan dalamkedudukan
b. Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan
c. Kecerdasan
d. Ketegasan (decisiviness)
e. Kepercayaan diri
f. Inisiatif
C. SIFAT-SIFAT KEPEMIMPINAN
Sifat kepemimpinan adalah sikap dan tingkahlaku yang harus diketahui, disadari, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat-sifat seorang pemimpin yang baik, yang perlu dimiliki dan dikembangkan adalah:
a. Jujur
b. Berpengetahuan
c. Berani (fisik dan moral)
d. Mampu mengambil keputusan
e. Dapat dipercaya
f. Berinisiatif
g. Bijaksana
h. Tegas
i. Adil
j. Menjadi tauladan
k. Tahan uji (ulet)
l. Loyalitas
m. Tidak mementingkan diri sendiri
n. Antusias
o. Simpatik
p. Relah hati
H. Fayol mengemukakan beberapa karakteristik pemimpin, yaitu : sehat, cerdas, setia, jujur, berpendidikan dan berpengalaman.
GR. Terry menggemukakan karakteristik pemimpin, yaitu: Kekuatan, kesetabilan emosi, kemampuan hubungan manusiawi, dorongan pribadi, keterampilan berkomunikasi, kecakapan mengajar, kecakapan bergaul, dan kemampuan teknis.
D. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
Sondang P. Siagian mengemukakan bahwa ada lima tipe kepemimpinan dalam suatu organisasi, yaitu:
1. Kepemimpinan yang otokratis
2. Kepemimpinan yang militeristis
3. Kepemimpinan partenalistis
4. Kepemimpinan yang kharismatis, dan
5. Kepemimpinan yang demokratis
Dari lima tipe kepemimpinan tersebut dapat dijelaskan masing-masing sebagai berikut:
a. Tipe kepemimpinan Otokratis
Menurut George R. Terry (1984), kepemimpinan ini dasar keyakinan adalah bahwa kepemimpinan dimiliki oleh pemimpin karena ia memiliki wewenang tersebut. Ia memiliki wewenangan karena menjadi pemimpin. Ia mengetahui dan akan memutuskan hal-hal yang perlu dilaksanakan. Cirri-ciri pemimpin yang otokritas adalah:
1) Seolah-olah suatu organisasi yang dipimpinya adalah miliknya sendiri.
2) Tujuan organisasi diidentifikasikan dngan tujaun pribadi.
3) Para anggota atau karyawannya dianggap sebagai alat semata untuk mencapai tujuan.
4) Biasanya sulit untuk menerima kritik, saran, atau pendapat dari bawahannya.
5) Dalam proses penggerakan terhadap para bawahannya sering melakukan pemaksaan.
6) Setiap aktivitas hamper seluruhnya tergantung pada kekuasaan formalnya.
b. Tipe Kepemimpinan Militeristis
Kepemimpinan dapat disebut bertipe militeristis, jika kepemimpinan itu mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1) Para bawahan wajib melaksaakan perintah dari atasannya yang pangkat dan jabatannya lebih tinggi.
2) Setiap aktivitas ditekankan pada dasarnya formalitas.
3) Kritik, saran, dan pendapat ari bawahan sulit untuk diterima.
c. Tipe Kepemimpinan Paternalistik
Menurut Terry, kepemimpinan perternalistis ini terdapat suatu pengaruh kebapakan antara pimpinan dan kelompok. Tujuannya ialah untuk melindungi dan memperhatikan kesejahteraan pengikut-pengikutnya. Pemimpin yang bertipe paternalistis mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1) Menganggap para bawahanya tidak dewasa.
2) Sikap melindungi para bawahanya berlebihan.
3) Setiap pengambilan keputusan selalu ditentukan sendiri dan jarang sekali memberika kesempatan pada bawahannya untuk mengambil suatu keputusa.
4) Menganggap dirinya paling tahu tentang segalanya.
d. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan ini mempunyai daya tarik tersendiri yang amat berpengaruh terhadap para bawahan oleh karena itu biasanya pemimpin yag bertipe demikian, relative banyak pengikutnya. Mengenai mengapa seorang pemimpin yang bertipe demikian sangat disegani dan dipatuhi, disebabkan oleh beberapa criteria, yaitu:
1) Seorang pemimpin dianggap mempunyai kekuatan goib.
2) Pemimpin yang dipatuhi itu seorang keturunan bangsawan atau keturunan raja.
3) Objektif dalanm setiap hubungannya dengan bawaha.
4) Berwibawa yang dapat menimbulkan rasa hormat bagi para bawahan.
5) Berkemampuan untuk memberikan contoh atau teladan bagi para bawahan.
e. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Dinyatakan oleh Sri Sujati Kadarusman (1981), bahwa kepemimpinan yang demokratis ditunjukkan dengan adanya partisipasi atau ikut sertanya kelompok dalam penentuan tujuan. Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa setiap pemikiran para anggota dihargai dalam setiap pemecahan persoalan-persoalan. Oleh karenanya tipe kepemimpinan yang demokrasi mendorong lahirnya inisiatif atau prakarsa
Tipe kepemimpinan yang demokratis ini dapat diperinci atas dasar beberapa unsur yaitu sebagai berikut :
1. Ikut sertanya yang dipimpin dalam kepangurusan (social participation)
2. Adanya pertanggngjawaban dari pada pemimpin terhadap yang dipimpin (social responsibility)
3. Adanya dukungan dari pada yang dipimpin terhadap pemimpin (social support)
4. Adanya pengawasan yang dilakukan oleh yang dipimpin terhadap pemimpin (social control)
Mengutip pendapat dari Suwarno Handayaningrat dan pemakalah setuju dengan pendapat tesebut bahwa tipe kepemimpinan yang demokratislah yang paling tepat untuk era demokrasi modern seperti sekarang.
Menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :
1. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3. Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi- instruksinya harus ditaati.
4. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
5. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.
BAB III
KESIMPULAN
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Sifat utama ketika kita menjadi pemimpin adalah adil, amanah, tanggungjawab, dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar